Cerita Seks Terbaru Nikmatnya Ngentot Gadis Legian

Posted on

Cerita Seks Terbaru Nikmatnya Ngentot Gadis Legian Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa Namaku Jovi, umurku saat ini 29 tahun, aku bekerjapada sebuah perusahaan yang bergerak dibidang investasi. Sebagai kariawan aku termasuk yang paling cerdas dan paling kreatif diantara teman-teman kantorku. Disini aku mempunyai teman baik yang namnya Fandi, dia sejak SMA selalu bersamaan denganku sampai sekarang kita bekerja juga kita satu perusahaan. Aku dan Fandi sudh seperti saudara sendiri. Setelah beberapa tahun aku bekerja diperusahaan itu, aku ditugaskan untuk mengikuti seminar yang berada dibali, aku mengajak suatu teman unutk menmaniku mengeluarkan ide-ide terbaikku, dan akua ajaklah Fandi.

 Cerita Seks Terbaru Nikmatnya Ngentot Gadis Legian

cerita ABG binal, cerita seks, cerita dewasa, cerita hot

Waktu itu januari tahun 2000, aku dan Fandi terbang ke bali bersama Fandi. Setelah kurang lebih sejam, akhirnya aku sampai di bali juga. Kami dijemput sebuah mobil untuk menuju hotel berbintang 5 dimana seminar itu dilaksanakan. Setengah jam perjalanan kami sampai hotel, dan kami pun menuju kamar yang sudah disediakan untuk kami. Sore hari tiba aku jalan-jalan disekliling hotel agar tidak suntuk dikamar terus. Sambil jalan-jalan aku melakukan kebiasaanku dengan memotret, aku mengambil gambar yang sekiranya menarik buatku, antara lain cewek-cewek cantik yang menjadi obyekku. Sedangkan Fandi selalu sibuk dengan HP nya sendiri sambil menemaniku memotret.

Setelah merasa puas, akhirnya aku kembali kehotel dan lantas mandi dan lanjut makan malam yang sudah disediakan pihak hotel untuk kami. Saat aku dan Fandi makan, kulihat seorang wanita yang sangat menarik. Sejanak kupandangi tubuh wanita itu mulai dari kaki hingga ujung kepalanya. Tubuhnya tinggi semampai, bekulit putih bersih, berambut panjang sepinggang. Payudara yang ketat dan pantat yang menonjol kebelakang melengkapi keindahan tubuh wanita ini. Sambil makan aku mencuri-curi pandang ke wanita ini.saat itu dia bersama dengan teman wanitanya, temannya ini gak jelek-jelek amat siih tapi kalau menurutku kurang begitu menarik. Sekejap aku sangat ingin berkenalan sama dia, tapi aku belum berani mengajaknya berkenalan. Aku simpan saja rasa kagumku itukepadanya.

Keesokan harinya akhirnya seminarpun dilaksanakan. Banyak sekali yang seminar kali ini, kutafsir kurang lebih ada 100 orang. Banyak cewek-cewek cantik yang mengikuti seminar waktu itu. Tapi semalam aku dibuat penasaran oleh seorang cewek. Aku berharap cewek tersebut juga mengikuti seminar kali ini. Kutengok-tengok, kucari-cari, gak ada juga cewek itu, “Aaahhh, mungkin cewek itu gak ikut seminar” ucapku dalam hati. Tapi belum lama aku mengucap, munculah seorang wanita dengan berpakaian baju merah dan rok mini hitamnya. Semua mata sejenak tertuju pada wanita itu. Naaaah ini dia wanita yang semalem aku lihat, ucapku agak gembira. Setelah seminar dibuka akhirnya dimulailah masing-masing perusahaan, mulailah pertama kali wanita itu melakukan seminar. Setelah kurang lebih 15 menit wanita itu melakukan seminar, selesailah dan yang dipresentasikan sangatlah bagus sekali sehungga mendapat aplose dari peserta seminar yang hadir.

Sejam berselang akhirnya istirahat, aku mencari wanita yang semalam aku lihat itu, aku berniat untuk mengajaknya kenalan. Terus aku mencari akhirnya kutemui dia sedng duduk disebuah kantin sedang duduk sendirian dan langsung aku nyemperin ke mejanya, dan aku mulai membuka obrolan.

“Bagus ya topiknya tadi” kata Aku membuka pembicaraan.
“Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya”
“Nama Aku Jovi” kata Aku sambil memberikan kartu namaku.
“Oh iya, Aku Susan” katanya sambil mengeluarkan kartu namanya.

Dari obrolan aku dan Susan akhirnya aku mengetahui kalau Susan adalah wanita asli bali tepatnya Legian, dan ternyata Susan bekerja di perusahaan investasi juga tapi saingan perusahaan tempat Aku bekerja.

“Kamu sendiri saja ke seminar ini?” tanya Aku.
“Iya, tadinya teman Aku mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda”

Ternyata wanita yang semalam aku lihat bersama Susan itu adalah bukan teman Susan. Tak lama Fandi menghampiri Aku diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese.

“Jovi, kenalin nih teman Aku dari Singapore. Dulu Aku kuliah bareng dengannya” kata Fandi sambil menunjuk ke pria itu.
“Halo, Aku Jovi”
“Aku Steve” kata si pria.
“Aku Monic” kata si wanita.

Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Steve dan Monic bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Monic manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Susan, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Susan agak-agak nakal sehingga Aku sempat berpikir ia akan mudah Aku ajak tidur.

Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir pukul 1 siang. Aku, Fandi, Steve, Monic dan Susan makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore.

“Jovi, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Aku sudah bosan dengan makanan hotel” tanya Steve.
“Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant” sahut Aku. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam.

keesokan harinya Seminar dilanjutkan, hari ini seminar dimulai pukul delapan pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, Aku menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Susan terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih.

 Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Monic pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Monic ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock Caf lalu makan malam ke Warung Made.

Hari ini Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir pukul 5 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Monic, Steve, Susan dan Fandi sibuk berbelanja. Susan rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Monic terlihat kecil mungil karena Aku dan Fandi tingginya 185 cm, Steve sekitar 180 cm dan Susan sekitar 170 cm.

Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian.

Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, Aku terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Fandi kelihatannya sudah mabuk berat, Susan dan Monic mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Fandi yang mabuk. Aku memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, Aku membopong Fandi keluar, Monic bersandar pada Susan dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Fandi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Susan, Monic dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Fandi.

Setiba di hotel, Aku menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali Aku bopong Fandi. Monic berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Susan kelihatannya biasa saja padahal Aku tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan Aku menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 6, Steve dan Monic keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Susan berseru sambil membuka-buka tasnya.

“Shit, kunci kartu gue mana ya?”
“Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club” kata Aku.
“Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis” ujar Susan.
“Telepon dari kamar Aku saja” Aku menawarkan.

Pintu lift terbuka di lantai 6, kembali Aku membopong Fandi yang sudah tak sadarkan diri, Susan membantu Aku membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, Aku langsung menjatuhkan Fandi di tempat tidur. Susan membuka pintu balkon dan melihat keluar.

“Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut”
“Lumayanlah, kecil-kecilan” kata Aku sekenanya.

Aku berdiri di belakang Susan lalu memegang kedua bahunya sedangkan Susan tetap melihat kearah laut.

“Enak ya mendengar suara ombak” kata Susan.

Susan lalu merapatkan punggungnya ke dada Aku dan Aku merangkul Susan dari belakang. Dengan perlahan, Aku mencium kepala Susan lalu turun ke kuping kiri. Susan mendongakkan kepalanya sehingga Aku bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Susan menoleh ke Aku lalu mencium bibirku.

“Ummhh Jovi, you are so sexy” kata Susan.

Sambil tetap merangkul Susan, tangan Aku menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan Aku mulai menjelajahi seluruh pantat Susan yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal. Tak henti-hentinya Susan melenguh. Tangan Susan pun ikut meremas kontolku dari balik celana. Lalu Aku menarik Susan kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur.

Tangan Susan dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan Aku langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Susan yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas Aku meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Susan memburu dengan cepat apalagi saat Aku mulai beralih ke vaginanya. Susan bagaikan kuda liar saat klitorisnya Aku jilat. Tak henti-hentinya Aku menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Aku membalikkan tubuh Susan untuk bergaya 69.

Di pantat kiri Susan ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, Aku tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Susan menggenggam kontolku dan mulai menghisapnya. Aku pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Susan terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus Aku tahan pantatnya dengan kedua tangan Aku. Tiba-tiba Susan melepaskan genggaman tangannya dari kontol Aku dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.

Kemudian Susan nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Fandi. Aku mengikuti kemauannya, Aku merenggangkan kakinya dan mengarahkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah Aku setubuhi Susan yang seksi. Susan rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Fandi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Fandi. Susan mengeluarkan kontol Fandi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas kontol Fandi.

Aku memperhatikan Susan yang mulai mengulum kontol Fandi yang masih lemas sedangkan Fandi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap kontolnya. Tak henti-hentinya payudara Susan Aku remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Susan kembali mengalami orgasme. Aku mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Susan Aku rentangkan dan kembali kontolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali kontol Aku keluar masuk vagina Susan.

Tujuh menit menggenjot Susan, Aku merasakan akan ejakulasi. Aku percepat gerakanku dan tak lama kontolku memuntahkan peju didalam vagina Susan. Dengan terengah-engah Aku mengeluarkan kontolku lalu menindih Susan dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan Aku baru menyadari ternyata Fandi sudah berdiri disamping kami

“Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan” kata Fandi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan.
“Tenang Fandi, kamu dapat giliran kok” kata Susan sambil tertawa lalu menghampiri Fandi.

Sambil berlutut di tempat tidur, Susan meremas kontol Fandi yang perlahan mulai berdiri. Fandi memejamkan matanya menikmati Susan yang mulai menghisap kontolnya. Setelah puas menghisap kontol, Susan berdiri ditempat tidur kemudian mencium Fandi. Dengan kasar Fandi menggendong Susan sambil menciumnya. Kemudian Susan dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Fandi langsung menyetubuhi Susan. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Fandi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Susan, tak henti-hentinya Fandi menampar pantat Susan sambil berkata

Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Susan sampai menoleh kebelakang lalu Fandi mencium bibirnya. Susan kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Fandi. Aku kemudian berlutut didepan Susan lalu menyodorkan kontolku. Susan menyambut kontolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Fandi menyodokkan kontolnya dalam vagina Susan dengan keras, kontol Aku otomatis ikut tersodok ke mulut Susan. Tapi beberapa kali kuluman Susan terlepas karena Fandi suka menarik rambutnya. Tapi karena Susan tidak protes, maka Aku biarkan saja. – Koleksi cerita sex, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita horny, cerita hot 2016.

Cerita Sex 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *