Cerita Seks Terbaru Binalnya ABG Club Malam Versi IV

Cerita Seks Terbaru Binalnya ABG Club Malam Versi IV Bacaan Sex sebelumnya ialah Cerita Seks Hot IGO Binalnya ABG Club Malam Versi I Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Semi, Cerita Panas, Cerita Horny Bunyi telepon membangunkanku, JJ masih terlelap dengan dengkurnya yang keras seperti Babi yang sedang digorok, kembali perasaan jijik menghampiri mengingat bahwa tubuh gendut dan jelek itu semalam telah menyetubuhiku habis habisan dan lebih memalukan lagi bahwa akupun bisa menggapai orgasme darinya meskipun dengan caraku sendiri.

Cerita Seks Terbaru Binalnya ABG Club Malam Versi IV
cerita seks, cerita ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita dewasa


Bercerita Sex – “Hei bangun putri malas” teriak Ana setelah tahu aku yang terima, entah dari mana dia tahu aku berada disini.

“Sialan kamu, aku barusan tidur jam 6 tadi, masih ngantuk nih” jawabku agak marah karena tidurku terganggu.

“Nona manis, sekarang udah hampir jam 11, jadi kamu tidur udah 5 jam, cukup tuh” jawabnya tak kalah sengit.

“Iya.. Yaa.. Yaa, ada apa sih?” tanyaku masih menahan kantuk.

“Waktunya bayar hutang” jawabnya mengingatkan taruhanku.

“Aduuh, aku capek banget nih, apa nggak bisa besok aja” jawabku.

“NO Way sayang, aku udah bikin janjian untuk kamu dan tak mungkin lagi diundur” desaknya.

Dengan berbagai alasan aku berusaha menolak tapi Ana tetap mendesak, akhirnya akupun menyerah untuk menemani tamu pilihannya nanti saat jam makan siang, berarti 1 jam lagi.

“Oke jam 12 aku telepon lagi dimana kamu temuin dia” “Siapa sih tamunya..” dia sudah menutup teleponnya.

Kutinggalkan JJ yang masih juga mendengkur, siraman air hangat rasanya mengembalikan kesegaran tubuhku yang serasa raib ditelan ganasnya gelombang nafsu. Kumanjakan diriku dalam pelukan air hangat di bathtub, hampir 30 menit aku berendam dengan santainya.

Aku terkaget dan ketika kurasakan sesosok tubuh memasuki bathtub, tentu saja si juling JJ karena memang hanya ada dia.

“Boleh ikutan kan sayang” sapanya tanpa menunggu jawabanku tubuhnya sudah memasuki bathtub, air menjadi tumpah semua dan bathtub itu serasa terlalu kecil untuk kami berdua.

“Om, aku ada janjian jam 12 nanti, please tolong aku dong Om” aku merajuk protes saat tangan JJ mulai menjamah buah dadaku, aku tak ingin kelelahan sekarang, masih nggak tahu kayak apa laki laki yang akan disodorkan Ana nanti, tapi aku yakin bahwa tamu itu pasti spesial.

Bukannya beringsut tapi malah meremas remas buah dadaku dan mulai menciumi leherku.

“Semakin cepat melayaniku semakin cepat pula selesai dan kamu tak akan terlambat janjian” bisiknya sebelum mengulum telingaku.

Rasanya sudah nggak ada lagi jalan keluar, terpaksa kulayani kembali nafsu birahi si bandot tua itu, padahal semalam kami sudah bercinta hingga batas terakhir tapi sepertinya tak ada kata puas dari dia.

“Oke, sampai ada telepon nanti, selesai atau nggak, your time is over” syaratku, sebenarnya adalah suatu kesalahan besar karena masih 20 menit dari jam 12, kalau tidak bersyarat mungkin bisa kuselesaikan 5-10 menit.

Akupun mengambil posisi dogie, dan untuk kesekian kalinya kontol JJ kembali melesak diantara celah kenikmatan merasakan nikmatnya memekku, langsung keluar masuk dengan tempo tinggi diiringi remasan pada buah dada dan sedikit tamparan pada pantat.

Kami bercinta dengan liarnya seperti semalam, begitu liar hingga air bathtub kembali meluber ke lantai, tapi tak kami hiraukan dan desahan nikmatpun tanpa terasa keluar dari mulutku, kuimbangi kocokannya dengan goyangan pinggul.

Entah sudah berapa lama dia menyetubuhiku dari belakang, rasanya tak terlalu lama ketika dia memintaku keluar dari bathtub.

Didudukkan tubuh telanjangku di atas closet yang tertutup, dia lalu berjongkok didepanku, tanpa ragu lidahnya langsung mendarat di memek, aku menggeliat nikmat. Kusadari, inilah ciri permainan JJ, dia senang menjilati memek ditengah permainan tanpa mempedulikan apakah aku atau dia sudah keluar, dan itu sering dilakukan, bisa 3-4 kali oral disela permainan.

Dan sialnya aku sangat menikmati hal itu, cuma khawatir menjadi ketagihan dengan gaya seperti dia, sepertinya belum pernah kutemui laki laki yang mau menjilati memek di tengah tengah permainan seperti ini.

Sebelum dia melesakkan kembali kontolnya, kudengar HP-ku berbunyi, pasti Ana, pikirku. Berarti permainan harus diakhiri, tapi entahlah tiba tiba terasa sayang kalau harus mengakhiri dengan cara begini. Ingin kuabaikan telepon itu tapi aku juga harus jaga gengsi di depan JJ.

“Om telepon udah bunyi tuh” kataku seakan mengingatkan sambil mendorong kepalanya menjauh dari memekku.

Namun aku membiarkan saat tangannya meraba raba tubuhku saat aku menerima telepon Ana.

“Yap, dimana dan dengan siapa?” tanyaku singkat karena kepala JJ sudah berada kembali di selangkanganku saat aku duduk di pinggiran ranjang.

“Sabar non, aku juga lagi nungguin di lobby Garden Palace, dia masih meeting, kamu kesini aja deh temenin aku di coffee shop Kencana, nggak enak nih sendirian” jawabnya.

JJ sudah menelentangkan tubuhku, aku diam saja, bahkan ketika tubuhnya menindihku dan dia berusaha melesakkan kembali kontolnya, akupun diam saja, malahan membuka lebar kakiku.

“Nggak mau ah, ngapain nongkrong di situ, kayak orang nggak ada kerjaan saja” tolakku sambil menikmati kocokan dan cumbuan nikmat JJ.

Aku memang paling benci kalau harus nongkrong di lobby atau tempat terbuka seperti itu, apalagi di Garden Palace yang sempat menjadi rumah kedua-ku, tentu masih banyak yang mengenalku. Mati matian aku berusaha menahan desah nikmat dari kocokannya.

“Ih kamu jahat ya, awas nanti pembalasanku..” jawabnya tapi aku tak dapat mendengar lagi lanjutan kata katanya karena kocokan JJ semakin liar, kugigit erat bibirku takut kalau mulutku terbuka hanya desahan yang keluar.

“Oke kalau jagoanmu sudah datang, call me, oke?” jawabku supaya segera bisa mengakhiri pembicaraanku dengannya.

Begitu HP kututup, JJ menyambut dengan hentakan keras, akupun menjerit kaget, permainannya memang kasar seakan ingin membalas dendam atas penolakanku selama ini, itulah yang dilakukannya semalam dan berlanjut hingga siang ini, anehnya akupun menikmati pembalasan dendamnya. Akhirnya perahu birahi kami sampai juga ketepian bersamaan dengan bel HP dari Ana.

“Gimana? Udah datang si arjuna?” tanyaku to the point, padahal tubuh JJ masih ngos ngos-an nangkring diatas menindihku karena sengaja HP itu kuletakkan selalu di dekatku.

“Tuan putri, udah kita tunggu nih di kamar 1620, cepat berangkat sekarang” perintahnya langsung mematikan HP.

Kudorong tubuh JJ turun dan aku ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku lagi.

Setelah kembali berpakaian, me-make up wajahku, kutinggalkan JJ yang masih telentang telanjang memandangku seakan berat melepas kepergianku ke pelukan laki laki lain, padahal itu adalah kerjaan dia sehari hari.

“Ly, kapan kita bisa melakukannya lagi” katanya sambil menyelipkan segebok uang dalam belahan dadaku. “In your dream” jawabku terus meninggalkan kamar itu.

Hanya perlu 10 menit untuk mencapai Garden Palace, tanpa menoleh kiri kanan aku langsung menuju kamar 1620, seperti biasa aku tak ambil peduli siapa laki laki yang bakal kutemani dan bakal meniduriku.

Ana sudah menunggu di kamar bersama seorang laki laki bule muda dan tampan, bermata biru dan berambut blonde.

“Ly kenalin, Dion” katanya, kamipun saling bersalaman, kubiarkan dia mencium pipiku.

Kurang ajar si Ana, sudah tahu aku nggak mau melayani bule dia malah ngasih si bule itu, tapi kalau tampan seperti dia nggak ada salahnya dicoba, pikirku dalam hati, jantungku sudah berdetak kencang menyadari bakal melayani bule untuk pertama kalinya.

“Ly, kamu kan nggak mau melayani bule, jadi ini untuk aku, kamu tunggu aja sebentar lagi dia datang kok” kata Ana dalam bahasa jawa, mungkin supaya si bule tidak mengerti. Sambil berkata demikian dia lalu duduk dipangkuan Dion dan mereka mulai berciuman tanpa menghiraukan keberadaanku.

Tangan Dion sudah bergerilya di dada Ana yang tengah mendesis, ciuman Dion terlihat begitu penuh perasaan dan romantis, aku hanya duduk saja melihat mereka, penasaran untuk menonton bagaimana permainan seorang bule. Tak perlu menunggu lama, pakaian mereka satu demi satu sudah berterbangan. Aku sedikit terkesiap melihat tubuh atletis Dion apalagi dihiasi kontol yang besar nan tegang berwarna kemerahan.

Mereka sudah berpindah ke ranjang, mulanya Dion melakukan oral pada Ana kemudian berganti posisi, dan dilanjutkan dengan 69, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana kontol kemerahan itu keluar masuk mulut Ana, terlihat Dion begitu pintar bermain oral. Dengan tatapan menggoda dia menatapku setiap kali kontol itu mau memasuki mulutnya. Ada perasaan penasaran, iri maupun geli melihatnya, terasa kontol itu aneh bagiku.

Sesaat terlupakan sudah siapa bakal tamuku, mereka sudah mulai bercinta, Ana tengah menjerit jerit nikmat menerima kocokan kontol Dion yang besar itu. Sepuluh menit berlalu live show dihadapanku ketika bel berbunyi, mereka menghentikan aksinya.

“Tuh lakimu datang” kata Ana yang masih dibawah tindihan Dion.

Aku beranjak menuju pintu menyambut tamuku, ketika pintu kubuka aku begitu terkejut dengan apa yang ada dihadapanku. Berdiri di depan pintu, seorang laki laki setengah baya dengan pakaian lusuh agak kumal, topi kumal menghiasi kepalanya, menutup rambut yang mulai memutih. Aku tertegun hingga tak sempat mempersilahkan dia masuk.

“Ly, masak tamunya nggak dipersilahkan masuk, masuk aja Pak Taryo” teriak Ana dari atas ranjang.

Aku seperti tersadar, segera kupersilahkan masuk, ternyata Ana dan Dion sudah mengenakan piyama-nya.

“Pak Taryo, ini Lily milik Pak Taryo seperti yang kamu inginkan” kata Dion dengan logat bule-nya.

“Tapi tuan, saya nggak biasa dengan yang seperti ini, apalagi cantik kayak Non Lily ini, paling juga dengan si Ina pembantu sebelah, apa Non Lily mau sama saya” kata Pak Taryo terbata bata sambil menatapku bergantian dengan Dion.

“Pak Taryo pernah ke Tandes atau Dolly?” tanya Ana. “Eh neng, bikin malu aja, sekali kali sih, itupun kalau dapat persen dari tuan” kata Pak Taryo tersipu.

Kepalaku berputar pening mendengar pembicaraan mereka, laki laki macam apa yang akan disodorkan ke aku ini? Siapakah dia?

“Udah anggap aja dia dari Dolly atau Tandes, nggak ada bedanya, cuma dia lebih cantik dan lebih mulus dan lebih.. Pokoknya lebih dari segalanya deh.. Jauuh, mau nggak?” timpal Ana sambil menatapku.

Aku tak bisa berkata apa apa, sama sekali tak menyangka permainan taruhan bisa begini liar.

“Pak Taryo nggak suka sama dia ya, oke I carikan yang lain atau ntar kita ke tempat kamu biasanya” timpal Dion dengan bahasa yang aneh.

“Bu.. Bukan begitu tuan, aku cuma masih seperti bermimpi” jawab Pak Taryo dengan lugunya, sambil menatap ke bawah, dia seperti tak berani menatapku.

“Ly, kamu ini gimana sih kok diam saja, dia kan tamumu” hardik Ana sambil mendorong tubuhku ke arah Pak Taryo, tercium bau keringatnya yang tidak sedap.

“Udah urus dia, aku mau ngelanjutin, ntar aku keburu drop ngelihat Pak Taryo” bisiknya menggoda dan mendorong tubuhku semakin dekat ke Pak Taryo.

Kutatap matanya dengan penuh kemarahan, tapi dia membalas dengan tatapan penuh kemenangan, dia bisa mendapatkan laki laki seperti Dion tapi memberiku Pak Taryo. Dengan sangat terpaksa kugandeng Pak Taryo ke kamar mandi, aku ingin memandikan dia dulu, menghilangkan bau keringatnya yang menyengat.

Kukuatkan hatiku ketika melepas pakaian Pak Taryo satu demi satu sambil menggerutu dalam hati, kalau aku diberi tamu yang tua tapi berduit tentu nggak terlalu masalah karena tentunya masih bisa mengharap tip darinya tapi dengan orang seperti Pak Taryo, mana bisa memberiku tip, paling banter kalau dia memang memberi tak lebih dari 10.000, padahal aku biasa memberi tip pada room boy paling tidak 2 lembar 20 ribuan.

Tubuh Pak Taryo sudah telanjang didepanku, terlihat dia agak rikuh didepanku.

“Nggak usah non, aku mandi sendiri aja, non tunggu aja diluar” katanya saat celananya mau kulepas, tapi aku tak mau diketawain Ana.

“Nggak apa Pak, emang udah tugasku kok” jawabku menghibur diri.

“Kalo begitu non juga harus lepas, masak cuma aku yang telanjang” katanya mulai nakal.

Aku terdiam sejenak, agak marah juga sih sebenarnya, tapi dilepas sekarang atau nanti toh akhirnya memang harus dilepas juga. Dengan terpaksa kulepas juga pakaian dan celanaku.

“Non makin cantik kalo begitu” katanya saat aku mulai mengguyurkan air hangat ke tubuhnya. “Lepas aja itu sekalian non, ntar basah lho” katanya lagi saat aku mulai menyapukan sabun ke tubuhnya.

Akupun menurutinya, sudah kepalang tanggung, pikirku.

“Aku seperti mimpi bisa begini dengan non Lily” katanya ketika melihat tubuh telanjangku.

Tubuh telanjang kami sudah berada dalam satu bathtub, Pak Taryo sudah mulai berani memegang dan mengelus pundakku ketika aku menyabuni kontolnya. Elusannya bergeser ke dadaku dan mulai meremas buah dada saat kuremas remas kontolnya dengan sabun.

“Non jauh lebih sintal dari pada si Ina atau Ijah si janda gatel, apalagi kalau dibandingkan Mince yang di Dolly, wah kalah jauh non, mereka nggak ada apa apanya” katanya sambil meremas dan mempermainkan putingku.

Dalam hati aku mendongkol dan marah dibandingkan dengan pembantu atau para pelacur di Dolly, jelas bukan kelasku mereka itu. Kubiarkan dia dengan gemas mempermainkan buah dadaku, toh dia pasti melakukannya dan lebih dari itu kontol yang ada digenggamanku ini juga tak lama lagi akan masuk dan menikmati hangatnya memekku.

“Emang Pak Taryo apanya Dion” tanyaku sambil mengocok kontolnya dengan tanganku.

“Oh dia tuanku, sudah lebih 3 tahun aku menjadi sopirnya, dia itu orangnya baik sekali non, aku sering mendapat persen darinya” katanya memuji muji bos-nya.

Kudengar jeritan kenikmatan dari Ana menikmati permainan Dion, ingin aku melihat bagaimana Dion menyetubuhi Ana segera tapi aku harus melayani Pak Taryo dulu.

“Oouughh.. Shit.. Yes.. Yess.. Fuck me hard.. Harder.. Yes harder” berulangkali desahan lepas dari Ana terdengar melewati pintu kamar mandi yang tidak tertutup. “Aku mah sudah terbiasa mendengar suara suara seperti itu dari neng Ana” katanya mulai mendesis.

Sambil saling memandikan, akhirnya aku tahu kalau Pak Taryo yang sopir itu sering mengantar Dion dan Ana ke Tretes atau Batu, dan tak jarang dia melihat mereka bercinta, sepertinya Dion tak peduli kalau dilihat atau diintip sama sopirnya. Bukan cuma dengan Ana tapi begitu juga dengan gadis lain yang dia bawa tapi Ana yang paling sering dia bawa, makanya Ana mengenal Pak Taryo.

Sambil cerita Pak Taryo mulai menyabuni tubuhku, dia sudah berani mencium punggung dan leherku dari belakang disela sela ceritanya. Teriakan dan jeritan Ana masih terdengar, malahan semakin nyaring, sepertinya semakin liar.

Setiap dari luar kota, Dion selalu memberinya uang lebih, dan untuk pelampiasan dari apa yang dilihat di Tretes atau Batu, Pak Taryo pergi ke Dolly atau Tandes, memang tempat itulah yang bisa dia jangkau. Akhirnya kebiasaan itu ketahuan Dion, suatu hari Dion bertanya gadis seperti apa yang diimpikan Pak TAryo.

“Saya mah orang kecil nggak berani berangan angan yang muluk muluk” jawab Pak Taryo waktu itu, tapi Dion mendesak akhirnya Pak Taryo mengungkapkan impian nakalnya. Gadis yang putih mulus kalau bisa cina, tinggi, montok dan tentu saja cantik, itu sih semua orang juga mau, ledek Dion saat mengetahui impian Pak Taryo.

“Jangan kuatir Pak Taryo, impian kamu suatu saat pasti terjadi” janji Dion.

Minggu besok Dion mau pulang ke Belanda, karena visanya habis, Pak Taryo tidak berani menagih janjinya tempo hari karena beranggapan itu sekedar menghiburnya, hingga siang tadi sepulang rapat Dion memintanya untuk naik ke kamar ini sekitar jam 1:30 dan beginilah jadinya.

Kami sudah berpelukan sambil membersihkan sisa sisa sabun yang masih menempel di tubuh kami, tubuhnya yang tidak sampai se-telingaku, dengan mudahnya menciumi leher.

Jerit kenikmatan Ana sudah tak terdengar lagi, ketika Pak Taryo memintaku duduk ditepian bathtub. Aku tahu yang dia mau ketika dia mulai jongkok di depanku, kubuka kakiku lebar saat kepalanya mendekat di selangkangan.

Tanpa canggung Pak Taryo mulai menjilati memekku, kupejamkan mata saat bibirnya menyentuh klitoris, perlahan tapi pasti akupun mulai mendesah, apalagi ketika tangannya pun ikutan bermain di puting. Mau tak mau birahiku mulai bangkit, kuremas remas buah dadaku sambil meremas rambut Pak Taryo yang berada diselangkangan, kutekan semakin dalam.

Ternyata permainan oral Pak Taryo cukup lihai, tak seperti penampilannya yang lugu, dia mahir mempermainkan irama tarian lidahnya pada klitoris, aku masih malu untuk mendesah bebas, hanya rintihan tertahan.

Lidahnya dengan lincah menyusuri paha, memek dan klitoris, sepertinya tak sejengkal paha yang terlewatkan dari sapuan bibir dan lidahnya. Kalau saja kubiarkan, tentu bekas merah akan banyak bertebaran di pahaku.

Kedua tangan si sopir itu sudah beralih meremas remas kedua buah dadaku dengan kasarnya, diikuti bibir dan lidahnya mendarat pada puncak bukit itu, dengan kuat dia menyedotnya bergantian, aku menggelinjang antara sakit dan geli, kambali dia berusaha meninggalkan bercak merah pada bukitku tapi segera kucegah, mungkin dia begitu gemas melihat kemulusan buah dadaku yang ada dalam genggamannya itu atau ingin menikmati apa yang selama ini dia impikan.

Mataku terlalu lama terpejam berusaha menikmati cumbuan Pak Taryo, hingga aku dikagetkan suara, ketika kubuka mataku, ternyata Ana dan Dion sudah berdiri disamping kami, mereka masih telanjang. Ana dengan santainya menyandarkan tubuhnya di dada Dion tanpa risih meskipun didepan sopirnya.

“Udah gantian, kamu yang karaoke Ly” kata Ana. “Sialan” umpatku dalam hati, kutatap matanya tapi dia membalas tatapanku dengan sorot mata penuh kemenangan menggoda.

Pak Taryo menghentikan cumbuannya, menatapku seakan meminta persetujuan, aku diam saja, tak sanggup untuk meng-iya-kan, padahal sebenarnya memang tugasku.

“Itu para cewek di Dolly atau Tandes aja bisa melakukan, masak Lily yang terkenal itu nggak mau sih, lagian Dion juga ingin melihat bagaimana pintarnya kamu setelah kubilang kalau kamu lebih pintar karaoke dari pada aku” lanjut Ana dalam bahasa jawa.

Aku semakin jengkel tapi merasa tertantang saat dibilang Dion ingin melihat kemahiranku, entah kenapa seakan aku ingin membuktikan dihadapan Dion bahwa aku lebih hebat dari Ana.

Kuminta Pak Taryo berdiri, kontolnya tepat berada didepanku, kupegang dan kuremas remas, lalu kukocok dengan tangan, kembali ada keragu raguan saat kontol itu hendak kucium. Kulirik Ana dan Dion yang tengah melihat kami dengan penuh perhatian, terpancar sorot mata aneh dari Dion yang tak bisa kuterjemahkan.

Kontol di genggamanku semakin mengeras seiring desahan nikmat dari Pak Taryo, kubulatkan tekadku sambil memejamkan mata saat bibirku akhirnya menyentuh ujung kontol. Sapuan bibir sepanjang kontol mengiringi desahan kenikmatan darinya, tangan Pak Taryo mulai meremas remas rambutku, suatu hal yang sangat tabu dilakukan seorang sopir padaku, tapi kali ini dia adalah tamuku yang berhak melakukan apa saja yang dimaui.

Dion mendekat ketika kontol sopirnya memasuki mulutku, rasanya mau muntah merasakan kontol itu dimulut, meski ini bukan pertama kali aku mengulum kontol dari orang “rendah” macam dia tapi kali ini sungguh lain karena apa yang aku lakukan adalah suatu harga yang harus kubayar, dan aku tak mendapatkan sepeserpun dari perbuatanku ini. Mengingat hal ini, perutku semakin mual tapi tetap kuteguhkan tekadku.

Aku agak “terhibur” saat tangan Dion yang penuh bulu itu mulai ikutan menyentuhku, mengelus punggung, rambut dan meremas remas buah dadaku dengan lembut, jauh lebih lembut dari Pak Taryo. Kalau saja diperbolehkan, tentu kualihkan kulumanku pada kontol Dion yang kemerahan menggemaskan itu. Tapi, jangankan mengulumnya, ketika tanganku berusaha meraihnya, Ana langsung menepis.

“Ojo nyenggol Dion” katanya, padahal Dion tengah meremas remas buah dada dan mempermainkan putingku.

Sentuhan Dion membuat birahiku perlahan naik, menghilangkan mual diperut, dan kulumankupun semakin bergairah pada Pak Taryo, tentu saja dia semakin senang menikmatinya, berulangkali lidah dan bibirku menyapu sekujur batang hingga kantong bolanya. Pak Taryo-pun semakin berani, dipegangnya kepalaku dan dikocoknya mulutku dengan kontolnya.

“Ya begitu, bagus Pak Taryo.. Faster.. Harder” komentar dan perintah Dion dengan nada pelo pada sopirnya, sementara dia sendiri meremasku semakin liar dan satu tangannya dari belakang sudah berada di selangkananku. Tak dapat kutahan lagi ketika pinggulku mulai bergoyang mengikuti permainan jari Dion pada memek, kini atas dan bawah tubuhku bergoyang bersamaan.

“Kita pindah ke ranjang yuk” usulku sambil berharap bisa mendapat cumbuan lebih banyak dan lebih bebas dari Dion, meski aku belum pernah melayani bule dan selama ini tidak ingin, tapi untuk Dion aku tak keberatan sebagai yang pertama.

Tanpa menunggu persetujuan, aku berdiri meninggalkan mereka menuju ranjang, langsung telentang diatas ranjang bersiap menerima cumbuan, terutama Dion.

Harapan tinggallah harapan, yang muncul ternyata Pak Taryo, tanpa mempedulikan mimik kekecewaanku, dia langsung mencumbu dan menindih tubuhku, menciumi leher dan bibir, melumat habis hingga putingku terasa agak nyeri.

“Oh yess.. Fuck me harder.. Yess faster.. Faster” sayup sayup mulai kudengar jeritan Ana dari kamar mandi. Sebercak iri melintas dibenakku membayangkan Ana mendapat kocokan dari si bule dengan kontol yang besar dan kemerahan itu, sementara aku sendiri hanya mendapatkan sopirnya yang tua dan jelek, rakus lagi.

Pak Taryo mulai menyapukan kontolnya ke memekku.

“Non, aku sungguh nggak nyangka akan mendapat kesempatan seperti ini, bisa bersama non yang cantik, malah lebih cantik dari neng Ana” katanya seraya mulai memasukkan perlahan kontolnya. Aku sama sekali tidak merasa tersanjung dengan pujian seorang sopir seperti dia.

Kontol Pak Taryo mulai merasakan nikmatnya memekku, diiringi wajah tuanya yang menyeringai penuh kepuasan dan nafsu bak singa tua mendapat kambing muda. Begitu melesak semua, digenjotnya memekku dengan kecepatan penuh bak mobil tancap gas, tubuh tua itu menelungkup di atasku, terdengar jelas desah napasnya yang menderu dekat telinga, aku sama sekali tak bisa menikmati kocokannya, justru perasaan muak yang kembali menyelimutiku.

Dari dalam kamar mandi Ana berteriak semakin liar, ingin aku melihat apa yang tengah mereka lakukan hingga membuat Ana terdengar begitu histeris.

“Oh.. Yaa.. Come on, Mark can do more than this” terdengar disela desahannya Ana membandingkan Dion dengan orang lain yang aku sendiri tak tahu.

Aku lebih menikmati desahan dan jeritan Ana daripada permainan Pak Taryo yang tengah mengocokku dengan penuh nafsu, justru suara suara itu lebih membangkitkan birah. Kugoyangkan pantatku mengimbangi gerakannya, bukannya karena aku mulai bernafsu tapi lebih berharap supaya Pak Taryo cepat selesai dan aku bisa melihat permainan Ana dan Dion.

“Oh no.. No.. Pleasse.. Not my ass..” teriakan Ana menarik perhatianku, Dion memaksakan anal sex padanya, kudengar Dion berkata tapi terlalu pelan tak bisa kudengar apalagi dengus napas Pak Taryo tepat di telinga.

“Please.. Please don’t, I never.. Aauuww.. Sshit..” lalu senyap tak terdengar lagi teriakannya, entah apa yang terjadi, apakah dia pingsan? Tak sempat aku menduga duga karena Pak Taryo sudah melumat bibirku tanpa menghentikan kocokannya.

“Oh shiit.. Bule edaan..my ass.. Ugh.. Ugh..” desah Ana kembali terdengar, rupanya Dion telah berhasil mem-perawani anus Ana, membayangkan kontol yang besar itu keluar masuk lubang anusnya, birahiku kembali naik. Goyangan pinggulku semakin cepat, ingin segera kutuntaskan tugas berat ini dan aku yakin Pak Taryo tak bisa bertahan lebih lama lagi, apalagi dengan sedikit berpura pura mendesah nikmat.

Dugaanku benar, dari raut wajahnya tampak dia sudah dekat dengan puncaknya.

“Keluarin di luar aja” pintaku sambil pura pura mendesah, rasanya tak rela kalau memekku dikotori spermanya.

Tapi terlambat, belum sempat aku memperhatikannya lebih lanjut tiba tiba kurasakan tubuhnya menegang seiring denyutan kuat kontolnya pada memekku, aku menjerit keras, bukannya nikmat tapi karena marah, sopir itu telah “mengotori” memekku dengan spermanya, sperma yang selama ini disemprotkan pada wanita murahan di Dolly atau tandes.

Aku tak sempat mendorongnya keluar karena tubuhnya sudah ditelungkupkan di atasku bersamaan semprotan hangatnya.

“Sialan.. Sialan.. Sialaan, dasar sopir tak tahu diuntung” gerutuku dalam hati sambil merasakan denyutan demi denyutan.

“Maaf non, habis tanggung sih, lagian non Lily membolehkan aku tanpa kondom, biasanya mereka selalu meminta pakai kondom” kata Pak Taryo setelah denyutan itu habis. Aku tertegun mendengar kalimat terakhirnya.

“Ya udah turun gih, berat nih nggak bisa napas aku” kataku menahan marah sambil mendorong tubuh Pak Taryo yang masih menindihku (saat menulis cerita ini, aku teringat kalau tubuh Pak Taryo mirip Mat Solar dalam sinetron Bajaj Bajuri itu).

Desah kenikmatan dari kamar mandi masih terdengar, segera aku beranjak menuju kamar mandi untuk melihat mereka. Kulihat mereka sedang melakukan dogie di lantai, tampak kontol kemerahan itu keluar masuk lubang anus Ana yang tengah mendesah. Tampaknya Ana benar benar sedang melayang tinggi hingga tak menyadari kedatanganku, aku mendekat sambil berharap Dion mau menjamah dan berbagi gairah denganku.

Dion yang tengah mengocok anus Ana melihatku, dia menarik tubuh telanjangku dalam pelukannya, inilah pertama kali aku berpelukan dengan seorang bule, telanjang lagi. Maka akupun tak mampu menghindar saat bibir Dion mendarat ke bibirku dan bibir kamipun bertemu. Aku hanya tertegun tak membalas lumatannya, setelah tangan kekar Dion yang berbulu itu mulai menjamah dan meremas remas buah dadaku, barulah seakan tersadar.

Namun sebelum aku membalas kuluman itu, ternyata Ana menyadari keberadaanku, disela sela desahan kenikmatannya Ana masih sempat menghardik.

“Ly, stay away from him, don’t even think about it”

Spontan Dion melepaskan pelukannya dan akupun menjauh melihat mereka dari pintu kamar mandi, rasanya birahiku terbakar hebat tanpa bisa berbuat apa apa, tanpa malu kupermainkan sendiri klitorisku, Dion hanya tersenyum melihat tingkah lakuku.

Beberapa menit berlalu, mereka belum juga selesai, malahan berpindah ke ranjang tempat Pak Taryo tadi melampiaskan nafsunya padaku. Aku sengaja duduk menjauh dari Pak Taryo sambil melihat Dion dan Ana bercinta, berbagai posisi telah mereka lakukan, namun belum juga terlihat tanda tanda menuju puncak, tapi aku yakin sekali kalau Ana telah berkali kali menggapainya. Dalam hati aku mengagumi Dion yang begitu jantan, baik penampilan maupun gaya bercintanya, kembali aku Iri pada Ana.

Ketika Ana sedang bergoyang pinggul di atas Dion, dia melihatku.

“Ly, sini” ajaknya untuk ikut naik diatas ranjang, akupun dengan senang hati menurutinya, akhirnya kesampaian juga untuk merasakan kejantanan Dion, pikirku.

Namun aku harus menelan sekali lagi kekecewaan pada detik berikutnya.

“Pak Taryo, kenapa duduk saja, tuh Lily sudah nganggur dan telah siap” kata Ana lalu melanjutkan goyangan dan desahannya.

Pak Taryo yang merasa mendapat angin segera menuju ranjang dan langsung menubrukku, tubuh telanjang kami kembali menyatu.

Selanjutnya kamipun memacu nafsu di arena yang sama, ranjang. Berulang kali kulihat Ana menatapku dengan sorot penuh kemenangan, dibiarkannya Dion menyentuh dan menjamah tubuhku, tapi tak sekalipun aku diijinkan untuk menyentuh pasangannya, sepertinya dia benar benar menikmati kemenangannya.

Ana dan Dion bercinta seperti tak ada hari esok, mereka benar benar liar, mungkin aku juga melakukan hal yang sama kalau mendapatkan pasangan seperti Dion, tapi kini yang kudapat adalah Pak Taryo, sopirnya.

Hingga akhirnya akupun menyerah kalah atas permainan Ana dan terpaksa harus kurelakan sperma Pak Taryo mencemari memek dan rahimku dua kali lagi.

“Neng boleh tahu nggak kalau sama non Lily itu berapa ya bayarnya” kata Pak Taryo saat hendak keluar kamar.

“Ha? Udah sana sana pergi, yang jelas kamu nggak akan mampu sampai kapanpun” hardik Ana lalu mengusir Pak Taryo keluar kamar.

Sepeninggal Pak Taryo aku masih bersama mereka, sebenarnya berharap untuk mendapatkan sepenggal kenikmatan dari Dion, tapi hingga batang rokok kedua kuhabiskan sepertinya Ana tidak akan memberi kesempatan itu.

Sesungguhnya aku bisa saja meninggalkan mereka karena taruhan sudah terbayar tapi seberkas harapan masih menahanku untuk lebih lama tinggal bersama mereka. Kalaupun aku tak bisa mendapatkannya paling tidak bisa mengulum kontol kemerahan itu atau paling tidak memegang dan meremasnya.

“Ly, aku mau tinggal sampai besok, terserah kamu mau disini atau pergi, tapi jangan harap aku membagi Dion dengan kamu, karena pasti aku kalah kalau harus bersaing denganmu, seperti yang sudah sudah” kata Ana menggoda.

Daripada menjadi penonton pasif, maka kuputuskan untuk meninggalkan mereka. Lebih baik aku mencari tamu lagi, toh masih belum terlalu malam. Aku bertekad untuk melayani tamuku nanti dengan penuh gairah, beruntunglah tamuku malam ini karena akan mendapat bonus sampai pagi, akan lebih baik kalau bisa 2 in 1 atau bahkan 3 in 1, sekedar pelampiasan birahi, bila perlu bercinta sampai pagi.

Kutinggalkan mereka diiringi jeritan kenikmatan Ana saat kontol Dion sudah kembali keluar masuk lubang anusnya. Cerita Mesum Dewasa Nafsu Yang Liar Didalam Mobil

Dalam 2 hari ini aku telah mengalami kejadian yang luar biasa, kemarin telah memecahkan rekor untuk melayani laki laki dalam sehari dan berbuat liar seperti pelacur jalanan. Hari ini aku harus melayani seorang sopir dan mulai membayangkan nikmatnya bermain dengan seorang bule seperti Dion.

Ketika aku melintasi area parkir, kulihat Pak Taryo duduk bergerombol dengan rekan sesama sopir di pojok, kupanggil dia.

“Kalau kamu ngomong macem macem pada siapa saja, awas!!” ancamku, dia hanya manggut manggut.

Sambil menyusuri jalanan malam kota Surabaya, kuhubungi beberapa GM untuk menanyakan orderan, ingin kulampiaskan birahiku segera dengan satu, dua atau bila perlu tiga laki laki sekaligus seperti yang sudah kualami sebelumnya. – Koleksi cerita sex, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita horny, cerita hot 2016

Cerita Sex 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *