Cerita Seks Ngesex Istri Orang Sebagai Pelunas Hutang

Posted on
Nonton Video Bokep JAV

Cerita Seks Ngesex Istri Orang Sebagai Pelunas Hutang Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Semi, Cerita Panas, Cerita Horny Sejak beberapa bulan yang lalu, Remon teman akrabku banyakmeminjam uang kepadaku karena ekonominya yang belum mapan dan sekarang dia juga belum bekerja. Aku sebagai teman yang sudah mapan dengan pekerjaanku maka aku terus meminjamkan sejumlah uang kepada Remon yang semakin lama semakin banyak. Namun suatu saat aku ada kebutuhan yang sangat mendesak dan harus membutuhkan uang yang banyak, maka aku beranikan menagih uang kepada Remon.

Dan suatu malam aku bergegas menuju rumah Remon untuk menagih hutangku namun aku tidak memaksa, tapi aku hanya mencoba, barangkali Remon sudah ada uang. Namun sampai dirumahnya aku tidak tega mendengar jawaban Remon yang bilang belum punya uang. Dan Karena hari sudah larut, aku tahu diri, segera permisi pada Remon.

Cerita Seks Ngesex Istri Orang Sebagai Pelunas Hutang
cerita dewasa, cerita seks, cerita mesum, cerita panas


“Gua jadi enggak enak nih..”
“Sudahlah Mon. Gua gak apa-apa koq. Gua cuma nyoba aja, barangkali ada,” aku menukasnya, takut membuatnya jadi beban pikiran.
“Ma, gua mau bisikin sesuatu..’ tiba-tiba Remon mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Remon menawarkan istrinya untuk kutiduri.
“Gila lu.. Sialan..” ucapku.
“Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya eu udah banyak berbuat baik sama gua. Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan..” begitulah ucap Remon dengan serius.

Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Nurul. Bahkan aku pun memuji Remon, bisa mendapatkan gadis secantik Nurul. Selain posturnya yang tinggi, Nurul memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar. Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Nurul.

Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berpantasi; membayangkan Nurul jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Nurul kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jauh-jauh. Karena aku sangat tahu, Nurul itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula. Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.

“Lu serius, Mon? Bagaimana dengan Nurul? Apa dia mau?” aku pun akhirnya mulai terbuka.
“Kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau,” jawabnya.
“Gimana caranya?” aku penasaran.

Remon kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi. Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Nurul.

“Nurul..! Nurul..! Nurul..!” Remon memanggil istrinya.

Dan tanpa selang waktu lama, Nurul ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang tetap rapat.

“Ada apa, Bang?” tanya Nurul.
“Tolong belikan rokok ke warung..!” kata Remon sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya.
“Baik, Bang,” Nurul menerima uang itu, lalu ke luar.

Remon segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Remon ke luar lagi. Pintu kamar, tampak masih terbuka.

Tidak lama kemudian, terdengar suara Nurul yang datang. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Dan Remon mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Nurul kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas.

Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar. Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, entah siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Nurul yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk.. Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lantai, satu persatu.

“Emh.. Ah.. Uh.. Oh..” Jelas, itu suara milik Nurul.
“Euh.. He.. Euh..” nah kalau itu, suara Remon.

Tampaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat.

“Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss..” suara Nurul membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.

Aku bisa merasakan, Nurul sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak tahan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.

Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul. Terutama tubuh Nurul, yang putih mulus. Remon sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Nurul sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Remon, dan kakinya menjepit pantat Remon. Aku mulai tidak tahan.

Tiba-tiba Remon semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan tertahan Nurul semakin menjadi-jadi.

“Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh..” Hanya itu yang keluar dari mulut Nurul, karena mulutnya disumpal oleh mulut Remon. Dan akhirnya.
“Agh.. Agh..!” suara Remon mengakhiri pendakian itu.

Namun tampaknya Nurul belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Remon, agar tak segera mencabut penisnya. Tetapi apa hendak dikata, Remon sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.

Kesempatan inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Remon tadi. Maka tanpa ragu lagi, aku segera melompat ke atas ranjang. Meraih tubuh Nurul dan langsung menindihnya. Tentu saja Nurul terpekik kaget.

“Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! setaan..!” Nurul berontak. Ia sangat marah tampaknya.
“Nurul, aku punya hutang pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempatan..” Remon yang menjawab, sambil mengelus rambutnya.
“Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! bangsat..!” Nurul mendorong tubuhku.

Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil tanganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Nurul tetap meronta. Nurul berkali-kali meludahi mukaku. Tetapi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.

Meskipun liang vagina Nurul sudah licin, namun penisku tetap agak seret untuk segera menembusnya. Nurul terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus. Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Nurul tetap berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.

Kurasakan ada air mata yang mengalr dari kedua kelopak matanya. Tetapi aku semakin bernafsu. Kuremas-remas payu daranya yang ternyata memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Nurul terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Nurul bisa beradaptasi dengan penisku. Nurul tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.

Walaupun Nurul diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Nurul. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan tangisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Nurul ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam. Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan tangisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian memburu. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci pantatku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.

“Kau menikmatinya, sayang?” bisikku.
“Diam..!” dia membentakku. Namun aku yakin, Nurul hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Nurul menekan pantatku. Tangannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.

Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang tertahan. Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan pantatku. Dan vaginanya ditekan pula ke atas. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Nurul. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras. Sampai akhirnya tiba pada genjotan yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.

“Agh.. Agh.. Agh..” Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Nurul.
“Akh.. Akh.. Akh.. Ss..” begitulah yang keluar dari mulut Nurul.

Lalu kemudian Nurul mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku. – Koleksi cerita sex, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita horny, cerita hot 2016.

Cerita Sex 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *