Cerita Seks Kunikmati Memek Basah Dua Gadis Perawan

Cerita Seks Kunikmati Memek Basah Dua Gadis Perawan Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Semi, Cerita Panas, Cerita Horny Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 2 siang, terpaksa kami hentikan permainan yang tanggung itu. Dan dengan berat hati kami berbenah ruangan yang sudah seperti kapal pecah!

Cerita Seks Kunikmati Memek Basah Dua Gadis Perawan
cerita seks, cerita panas, cerita mesum, cerita ngentot


“Mas Fakih ke kostnya Hari ini ya?” tanya dia sambil membetulkan kancing bajunya.
“Iya, mau ikut tah?” tanyaku.
“Malas.. Panas!” Kami saling pandang seolah tidak terima dengan perpisahaan yang sesaat itu.
“Gimana kalau kita tidur disini saja” bisiknya.
“Terus?”
“Ya, kita kunci aja kamar dari dalam, biar Ibu kost gak tahu! anggap aja kami lagi tidur kan beres?”
“Ha.. Gila lu!” kataku pendek.
“Mas Fakih kan juga capek baru dari Solo, ntar di Kos Mas Hari gak bisa istirahat, paling juga bengong!”

Aku terdiam sejenak, “benar juga..” pikirku.
“Benar nih gak taku ama Ibu kost?”
“Siapa takut..”
“Okelah, tapi ntar aku tak ke kamar mandi sebentar”

Sepulang dari kamar mandi kulihat dia udah ganti pakaian tidur dengan lengan terlihat mulus, kuning kecoklat coklatan.

“Hami tutup pintunya ya Mas..”
“Hemmm..”
Kubaringkan badanku di kasur yang empuk, dan dia di sampingku sambil memelukku seolah tak mau kehilangan aku.
“Aduh..” tiba tiba aja dia bergumam.
“Ada apa?”
“Kurang ajar nih semut gigit paha Hami” ujarnya sambil menyingkap daster bawahnya.
“Wah bener kurang ajar tuh semut gua aja belum pernah gigit paha Hami kok dia udah duluan..”
“Emang mau gigit, tapi abis gigit mesti mati ya.. Hi.. Hi..”
“Tu kan Mas, jadi merah.. Emang kurang ajar semut itu!”
“Sini Mas Fakih cium biar sembuh..” jawabku layaknya orang pacaran yang sok pahlawan.
“Gombal..”

Sambil iseng aku lihat pahanya yang digit semut itu dan, “Wow.. Mulus juga nih paha” batinku. Aku usap paha itu dengan lembut beberapa kali, dan tiba tiba saja aku cium paha itu.

“Iihh geli Mas..” Suara itu membuat ku birahi!
“Geli apa enak?” bisikku, tanganku mulai menggerayangi payudaranya.

Dia diam saja, tanganku mulai kuselipkan dibalik bajunya dan menggerayangi pentilnya yang sudah mulai mengeras. Sementara tangan kiriku mulai menyelinap dibalik celana dalamnya dan kugesek gesek kan pada Memeknya. Kusingkapkan dasternya keatas sehingga terlihat jelas gundukan Memeknya di balik celana putihnya. Dia diam saja. Sedikit demi sedikit mulai aku tarik celana dalamnya ke bawah.

“Ayo terus kalau berani..” tiba tiba aja dia berkata, aku sempat kaget dengan celetukannya itu.
Dalam sekejap saja sudah aku telanjangi dia, mulus! Tanpa banyak acara lagi aku juga ikut telanjang, aku gesek gesekkan Penisku ke Memeknya. Nikmat rasanya, tapi aku tak berpikir yang lain cukup gesek-gesek saja. Sambil bercanda dia bilang.

“Ayo kalau berani masukkan Mas”.
“Gila kamu..”
“Hi.. Hi.. Takut ya..”
“Emang kenapa takut?”
“Coba aja..”

Aku tahu dia cuma bercanda karena selama ini kita pacaran memang sangat berhati hati. Tapi dia terus mengejekku.. Akhirnya tergoda juga aku. Aku masukkan helm Penisku ke Memeknya yang jelas sudah basah kuyup, tapi aku masih ragu. Tapi terasa sangat hangat dan luar biasa.. Aku masukan sedikit lagi dan hampir separuh Penisku sudah masuk.

“Mas jangan.. Ingat ya.. Jangan..” katanya
“Kenapa.. Kamu takut ya..”
“Jangan Mas, keluarkan” pintanya pelan.

Aku terus menggesek gesekannya, nikmat rasanya! Tiba tiba saja dia menggeserkan pantatnya ke samping dan mendorong pahaku. Penisku terlepas, kami saling berpandangan sejenak.

“Mulai nakal ya?”
“Habis ditantang sih..”

Dia mencium lembut bibirku, aku balas dengan lembut dan kami saling berpelukkan erat, aku ciumi leher dan telinganya, dia mulai menggeliat aku terus menyerangnya perlahan lahan aku cumbu payudaranya dan terus aku merayap ke bawah sampai Memeknya. Bau anyir yang merangsang keluar dari Memek nya, aku jilati Memeknya, dia menggeliat nikmat, matanya terpejam. Aku semakin rakus melahapnya dan aku masukkan lidahku ke dalam Memeknya. Dia menggeliat.

“Ukhh.. Enak Mas”, Aku tambah semangat.
“Terus Mas.. Enak..”
Aku lepas mulutku dan aku ganti dengan Penisku. Nafsu besar dan nikmat yang aku rasakan membuat ku tak sabar memasukkan Penisku.
“Aduh.. Pelan pelan Mas”
“Ya..”

Separuh Penisku sudah masuk, tapi susah sekali masuk lebih dalam. Aku tarik sedikit masuk lagi, mudur masuk.. Mundur.. Masuk tak terasa hampir masuk semua Penisku ke Memek nya. Aku remas payudaranya sambil aku ciumi lehernya, dia terlihat merem melek merasakan nikmatnya Penisku. Tiba tiba saja ada yang menarik Penisku dari dalam Memeknya dan nikmat sekali..

“Akh.. Enak sekali sayang..”
“Tekan Mas.. Tekan lagi.. Pelan pelan..”
Aku merasakan Penisku keras dan terasa membesar didalam Memek Hami, aku sodokkan Penisku dengan pelan tapi pasti, dan semakin terasa ada yang menarik narik Penisku di dalam Memek.
“Akhh.. Sakit Mas.. Enak Mas.. Terus.. Terus..”

Erangan itu membuat aku semakin mengencangkan pelukanku terhadap dia, aku peluk dia erat-erat dan dia juga memelukku erat sekali sambil menahan sakit tapi enak..

“Uuuhhh..” desis dari mulutnya sambil mengejang sekujur tubuhnya.
“Ehmmhh..” badanku juga terasa mengejang nikmat sekali sperma ku kelar dengan deras memasuki Memeknya.

Terasa hangat Penisku, nikmat dan tak terungkapkan dengan kata kata hanya erangan nikmat dari mulut kami berdua. Tiba tiba aku merasakan cairan merampat di pahaku, aku terkejut bukan main. Aku tarik Penisku dari Memek Hami. Mataku terbelalak melihat cairan itu. Darah!

“Mas.. Apa yang kita lakukan?” Pandangannya juga nampak kaget.
“Maaf Mi..” kataku.
Tiba tiba saja Hami memelukku erat erat.
“Hami sayang Mas Fakih”
“Mas Fakih juga sayang Hami”

Aku rebahkan dia di kasur yang empuk, kami saling berpandangan.

“Hami gak menyesal kok Mas, kami senang”, Ah, lega rasanya mendengar kata kata itu.
Tok.. Tok.. Tiba tiba saja pintu di ketok! Kami kaget bukan main, bingung mau apa.
“Mi.. Buka.. Tidur ya..”

Kami tak bergerak cuma saling pandang, pelan pelan kami mengambil baju masing masing.

“Itu Kakak”
“Diam aja Mas, pura-pura tidur gak dengar!”
“Mi, Kakak pinjem hairdryer”

Badan ini rasanya panas dingin, kami tidak berani memakai baju karena takut berisik.

“Klek..”

Tiba-tiba saja pintu terbuka, ternyata Kakak punya juga kunci kamar kost Hami yang memang berdampingan. Rasanya dunia mau runtuh saat itu.

“.. Mas..” Kakak seolah tak percaya apa yang dilihatnya. Cepat cepat Kakak masuk dan mengunci kamar Hami, dan Kakak siap mengadili kami berdua yang masih telanjang.

“Apa apaan ini?” Sambil melirik tempat tidur yang berantakan dan ada noda darah keperawanan Hami.
“Kak.. Maaf kan saya Kak” ucapku pelan.
“Saya yang bersalah Kak, bukan Hami”
“Kenapa Mas Fakih lakukan? Kakak udah percaya sekali ama Mas Fakih!” sambil meneteskan buliran air mata kekecewaan.
“Maaf Kak..”

Tiba tiba saja Kakak memelukku yang masih telanjang! dan Penisku menyentuh tubuhnya yang lebih kecil dari Hami. Pelukkan erat Kakak membuat Penisku berdiri lagi, dan aku bingung.

“Celaka nih, tegang lagi”

Hami pun ikut memeluk kami yang masih berpelukkan, payudara kami membuat aku tambah merangsang. Aku beranikan mencium bawah telinga Kakak yang masih terisak di pelukkanku. Harum juga karena Kakak memang baru selesai mandi. AKu tambah terangsang dan aku ciumi leher Kakak, sedikit aku merasakan gerakan Kakak yang ternyata dia juga terangsang dengan ciumanku ditambah posisi telanjangku dan Penisku yang menempel di sekitar pusar Kakak.

Aku coba kencangkan pelukanku terhadap Kakak, sementara aku ganti mencium Hami yang juga memeluk Kakak, Hami menyabut ciumanku dengan lahapnya sementara Kakak yang ada dalam pelukan kami berdua pada posisi ditengah karena memang Hami memeluk Kakak dari belakang dan saya dari depan. Tak ayal Kakak cuma menggeliat diantara kami, tanganku turun kebawah ke arah pantat Hami yang tepat dibelakang Kakak. Aku tarik pantat Hami ke depan sehingga mendorong tubuh Kakak lebih merapat ketubuhku dan menjepit Penisku. Aku goyangkan pantat Hami perlahan lahan dengan harapan badan Kakak juga ikut bergoyang, dan harapanku itu terpenuhi.

Badan Kakak bergoyang menggesek gesek Penisku, tangannya bertambah erat memelukku. Tiba tiba saja Mulut Kakak mulai menyerang leherku, rupanya dia juga gak tahan melihat aku dan Hami semangat berciuman. Tanganku mulai berani meraba payudara Kakak dan Kakak tidak menolak bahkan seolah olah menikmatinya. Mata Hami memandangku dengan sorot tajam seolah melarang aku meraba kakaknya itu tapi aku pura-pura tidak melihat. Perlahan tanganku aku turunkan dan meraba Memek Hami dengan tangan kanan, dan tangan kiriku mulai merayap dibalik celana dalam Kakak. Aku lihat Hami menikmati tanganku yang sudah meremas Memek nya, dia terlihat memejamkan matanya.

“Kesempatan” batinku.

Memek Kakak pun tak lepas dari tangan kiriku dan Kakak juga menikmatinya. Kakak sedikit melorotkan badannya dan mencium pentil susuku yang kecil dan dia terus bergerak ke bawah sambil meremas Penisku. Dan sesaat Kakak sudah sibuk dengan mulutnya menikmati Penisku.
Kakak mendorong badanku hingga aku terjatuh di spring bed, Hami pun mendahului Kakaknya memegang Penisku seolah dia tak rela Penisku di jamah Kakaknya. Hami langsung memasukkan Penisku kedalam Memeknya yang sudah basah dan sedikit noda darah masih ada, sementara Kakak harus puas melahap mulutku. Hami begitu semangat mengenjot Penisku dengan gerakan naik turun sambil mengerang kenikmatan.

“Ukhh” Hami mengeluh sambil badanya mengejang, rupanya dia sudah keluar lagi.
Kakak yang melihat Hami sudah orgasme memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil posisi mengarahkan mulutnya ke Penisku dan Memeknya diarahkan ke mulutku. Posisiku dan posisi Kakak saling berlawanan, kaki Kakak menjepit kepalaku sehingga aku dengan jelas melihat Memek Kakak yang dipenuhi rambut tipis disekelilingnya. Sementara Hami ada disamping kami berdua sambil meremas remas sendiri payudaranya. Aku jilati Memek Kakak yang masih wangi karena habis mandi, aku masukan lidahku menyentuh dalam Memeknya dan Kakak menikmatinya.

“Enak Mas.. Terus..”

Hampir saja aku tidak bisa bernafas karena Kakak menekankan Memeknya ke wajahku, aku dorong sedikit pantatnya supaya aku bisa bernafas. Aku balikkan badan Kakak, sehingga saat ini posisiku diatas Kakak. Aku tidak mau berlama lama melakukan oral sama Kakak, langsung saja aku masukkan Penisku ke Memek Kakak yang ternyata juga cukup kecil buat Penisku. Kakak agak kesakitan tapi tidak protes.

“Ahh..”

Akhirnya Penisku bisa masuk hampir semuanya, dan Kakak merasa kesakitan dan menggeser sedikit pantatnya kesamping tapi tetap aku buru ke samping sambil sedikit menggoyangnya. Kedua kaki Kakak diangkat menjepit pantatku seolah-olah dia ingin memasukkan Penisku lebih dalam lagi, aku berusaha memasukkan pelan pelan dan agaknya lebih lancar karena Memek Kakak sudah basah kuyup. Kaki Kakak menjepitku tambah kencang dan aku juga coba peluk Kakak lebih kencang.
“Aahhh..” Kakak melenguh dan nafasnya tersengal-sengal, ternyata dia mengalami puncak kenikmatan, aku rasakan badannya mengejang dan jepitan kakinya membuatku tak bisa bernafas tapi aku biarkan dia menikmati kenikmatan itu.

Sedikit demi sedikit jepitan kaki dan pelukan Kakak mulai lepas, giliranku sekarang untuk menikmati kenikmatan bersama Kakak. Aku balikkan badan Kakak dan aku masukkan Penisku dari belakang dengan gaya anjing aku coblos Memek Kakak.

“Huuhh” nikmat sekali ternyata dengan gaya ini, aku menikmati sekali gaya ini.
Penisku keluar masuk ke Memek Kakak seolah tak ingin berhenti apalagi diiring desahan Kakak yang pelan tapi sangat membuatku bernafsu. Hampir lima menit Penisku keluar masuk ke Memek Kakak dan akhirnya..

“Aaahhh.. Nikmat Kak..” badanku kejang.. Nikmat..!

Aku peluk Kakak dari belakang sambil menikmati orgasmeku. Penisku terasa membesar saat itu dan aku coba masukkan lebih dalam Penisku ke Memek Kakak. Tiba tiba saja terdengar suara seperti air tumpah. Crek.. Aku kaget tapi bersamaan suara itu kenikmatan yang jauh lebih nikmat dari sebelumnya! Aku kaget sekali saat aku rasakan ada air hangat mengalir di antara Penisku.
“Jangan jangan..”

Cepat cepat aku keluarkan Penisku dari Memek Kakak, hah.. Benar dugaanku. Darah! Ternyata Kakak juga masih perawan! berarti sehari ini aku dapat dua perawan, Kakak Adik pula.
“Hebat!” dalam batinku. Ternyata aku laki laki paling beruntung dapat perawan 2 sekaligus!
Tak kusadari aku lihat Hami disampingku meneteskan air Mata dan memejamkan matanya yang sudah sembab! Aku baru sadar ternyata adeganku dengan Kakak dilihat tanpa sensor oleh Hami! Pacarku! Dan adegan itu aku lakukan dengan kakaknya! Kakak! Saat itu aku gak tahu harus berbuat apa! Aku hanya memeluk Hami dan Kakak keluar dari kamar meninggalkan kami tanpa sepatah katapun. – Koleksi cerita sex, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita horny, cerita hot 2016.

Cerita Sex 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *