Cerita Seks Hot IGO Pemuas Nafsu Tante Yang Horni

Posted on

Cerita Seks Hot IGO Pemuas Nafsu Tante Yang Horni Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Semi, Cerita Panas, Cerita Horny  Kisah cintaku sungguh sangat indah. Setiap hubungan yang aku alami pasti selalu berhubungan Sex, tapi hubunganku bersama wanita-wanita yang pernah aku pacari tak pernah berakhir dengan mulus. Aku sendiri berhubungan dengan wanita paling lama setahun, dalam waktu yang panjang itu aku sudah pasti banyak menikmati tubuh wanita yang aku pacari. Setiap behubungan tidak hanya satu wanita saja yang aku pacari, bahkan aku pernah menjadi simpanan tante-tante, pernah juga muasin dosenku yang seorang janda kesepian, menikmati memek perawan adalah yang paling sering aku dapatkan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Cerita Seks Hot IGO Pemuas Nafsu Tante Yang Horni
cerita dewasa, cerita mesum, cerita panas, cerita seks


Sampai pada akhirnya aku menemukan seorang wanita yang sangat mengerti aku dan semua sifat-sifatku. Aku menikahi seorang wanita yang juga gila Sex, sama dengan kebiasaanku. Yang pasti aku dan istriku ini sangat cocok dengan berbagai fantasi Sex dimana saja kami inginkan. Sifat itu yang mungkin membuat hubungan kami menjadi langgeng sampai sekarang. Tapi kali ini aku akan menceritakan tentang pengalaman Sex ku dengan tanteku sendiri, saat itu aku baru berumur sekitar 18tahun. Begini ceritanya.

Saat aku masih SMA, aku bertempat tinggal dirumah tanteku, karena orang tuaku menitipkanku dirumah tanteku, karena kedua orang tuaku bekerja diluar jawa. Tanteku ini namanya Abel, orangnya sangat montok banget, dia gak terlalu tinggi Cuma sekitar 165cm, dengan berat badan 60kg agak gemuk tapi gak gemuk sekali. Payudaranya huuuuuh montok sekal, berukuran sekitar 38B setiap kelapa yang disabet payudara tanteku ini pasti akan langsung klepek-klepek. Singkat cerita saja deeh.

Kebiasaanku dirumah tante, aku sering disuruh tante untuk mengantarkan kemana saja tanteku akan pergi, sebgai orang yang numpang tempat tinggal aku selalu nurut saja. Sering kali aku rasakan payudar yang montk milik tanteku ini selalu menyentuh punggungku, tanteku sendiri ini juga tak segan untuk berpegangan di pahaku. Pasti setiap aku mengantarkan tanteku, brungku ini selalu saja berdiri tegap, tak kuasa menehan dorongan payudara tante. Selain itu selagi dirumah tanteku juga selalu berpakaian sangat seksi, kadang hanya memakai tengtop saja, sehingga terlihat jelas payudaranya yang besar menonjol keluar dari tengtopnya. Ketika mau mandi juga hanya menggunakan lipatan handuk saja, pahanya yang mulus terpampang jelas didepan mataku, aku selalu memikirkan bongkahan daging yang ada dibalik handuk. Aku selalu berpikiran mesum, ingin menikmati tubuh tanteku yang montok ini, Tapi aku selalu menahannya.

Sampai akhirnya pada hari itu aku sedang merayakan hari lahirku, aku sangat berharap mendapatkan ucapan atau hadiah dari tanteku. Tapi apa yang terjadi, mendapatkan ucapan saja tidak, aku berteriak kesal banget dalam hatiku, yang aku harapkan gak kunjung datang. Sampai keesokan harinya setelah hari lahirku lewat aku mendapat sebuah kejutan dari tenteku. Saat malam tiba kemudian tanteku tiba-tiba mendatangiku ke kamar dan menanyaiku. “Kenapa ultah kamu gak dirayakan secara khusus??” Tanya tante. “Nggak ada uang,” jawabku asal-asalan. Tante Abel mengusap pipiku.

“Nanti sore kita rayain berdua,” katanya, suaranya pelan sekali. “Tante mau kasih kado spesial buat kamu.” Aku jadi deg-degan. Di sekolah, pikiranku ngelantur tidak karuan, ulanganku jadi jeblok banget. Aku penasaran, apa betul Tante Abel mau memberi kado spesial. Entah kenapa, aku mulai membayangkan yang bukan-bukan. Karena tidak sabar, ketika jam istirahat aku ke telepon umum di seberang jalan. Di rumah cuma ada Tante Abel dan si Mbok. Aku hampir-hampir tidak bisa ngomong waktu denger suara Tante Abel yang merdu. Dengan lugu, akhirnya aku berterus terang bahwa aku penasaran. Kata Tante Abel.

“Selama ini kamu baik sekali sama Tante. Jadi, kamu boleh minta apa pun yang kamu mau.” “Kalau Tante sendiri mau kasih apa?” tanyaku. “Ya nanti dong!” “Nggak sabaran nih!” “Pulang aja sekarang kalau nggak sabar. Bisa kabur, kan?” “Tapi nanti aku ada ulangan!” “Ya udah, terserah kamu!”

Aku jadi tambah penasaran. Obrolan di telepon membuat pikiranku bertambah jorok. Entah bagaimana, feeling-ku mengatakan bahwa Tante Abel “naksir” aku. Maka, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung pulang saat itu juga. Kukebut motorku. Tante Abel tersenyum ketika membukakan pintu. “Si Mbok baruuuuu aja ke pasar!” katanya tanpa kutanya, seperti memberi isyarat bahwa situasi rumah benar-benar aman untuk kami. Aku jadi tambah deg-degan. Pikiran jorokku bertambah. Lebih-lebih saat itu Tante Abel mengenakan daster yang potongannya rada sexy.

“Kadonya mana?” tanyaku tidak sabar. “Nanti dulu dong!” jawab Tante Abel. Lalu aku disuruh menunggu di ruang duduk keluarga, sementara dia masuk ke kamar. Aku duduk di sofa sambil membuka sepatu. Tidak lama, Tante Abel keluar kamar, tapi aku tidak melihat dia membawa kado. Sambil memandangi dia berjalan ke arahku, aku berpikir, “Ngapain dia tadi masuk kamar?” Aku menemukan jawabannya beberapa saat kemudian, ketika kelihatan olehku kedua puting susunya membayang di balik daster. Rupanya di kamar tadi dia cuma membuka Bra. Lalu, mana kadonya?

“Merem dong!” kata Tante Abel sambil duduk di sebelahku. Aku menurut, kupejamkan mataku. Jantungku semakin bergemuruh. Kurasakan kelelakianku mulai bangkit, anuku mulai mengeras. Lebih-lebih ketika kurasakan nafas Tante Abel dekat sekali dengan mukaku. Aku ingin membuka mata, tetapi takut. Maka aku terus memejamkan mata rapat-rapat, sampai kurasakan Tante Abel mengecup pipiku. Lembut sekali. Kiri dan kanan.

“Itu kadonya?” tanyaku memberanikan diri beberapa saat kemudian. Tante Abel tersenyum. “Itu kado spesial dari Tante,” katanya lembut. “Tapi kalau kamu mau yang lain, kamu boleh minta. Apapun yang kamu mau….” “Aa…aa…aku… tidak berani…” jawabku terbata-bata. “Padahal kamu kepingin sesuatu?” dia mendesak sambil merapatkan body-nya. Aku semakin deg-degan. Tonjolan toketnya yang montok menekan lembut lenganku. Aku tidak berani membalas tatapan matanya. “Bilang dong…” suara Tante Abel semakin lembut. Wajahnya semakin dekat, aku jadi semakin tidak berani mengangkat wajah. Sampai tiba-tiba kulihat tangannya merayap… meraba selangkanganku!

Aku terkejut, bercampur malu karena ketahuan saat itu aku sudah “ngaceng”. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Tante Abel waktu itu, karena aku tetap belum berani melihat wajahnya, tetapi yang jelas dia malah memijit-mijit tonjolan Penisku yang tentu saja jadi semakin keras. “Tante… aku…” Aku semakin tidak enak hati, sementara nafsuku semakin tinggi. “Vaaan, kamu udah gede sekarang….,” bisik Tante Abel. “Udah 18 tahun, udah dewasa…” “Maksud Tante, aku boleh….” “Kamu boleh apapun yang kamu mau, Sayang!”

Berkata begitu, Tante Abel menerkam mulutku dengan bibirnya. Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Abel yang kian binal melumat-lumat mulutku, mendesak-desaknya ke dalam dengan buas. Sementara jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku, terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku. Tidak karuan lagi, aku jadi terangsang. Kini aku berani membalas ciuman buas Tante Abel. Nampaknya Tante Abel tidak mau mengalah, dia bahkan tambah liar lagi. Kini mulut Tante Abel merayap turun ke bawah, menyusuri leher dan dadaku. Kemeja seragamku entah kapan dibukanya, tahu-tahu sudah teronggok di lantai. Beberapa cupangan yang meAbelgalkan warna merah menghiasi leher dan dadaku. Lalu dengan liar Tante Abel membawaku turun ke karpet, dibukanya celana panjang abu-abuku, demikian pula celana dalamku dilucutinya dengan gerakan tergesa-gesa. Aku menjadi telanjang bulat.

“Oouuuuhhh…. Putraaaaaa…., Tante nggak nyangka, punyamu bagus juga….” seru bergairah Tante Abel sambil memasukkan batang kejantananku ke dalam mulutnya, dan mulailah dia mengulum-ngulum, sesekali dibarengi dengan menyedot-nyedot. Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang jemari tangan kirinya meremas-remas buah kemaluanku. Aku hanya mengerang-erang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya.

Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot daster Tante Abel, sehingga dia tinggal mengenakan celana dalam saja. Aku sangat terkejut saat melihat ukuran buah dadanya. Luar biasa besarnya. Bulat, montok, masih sangat kencang walaupun dia sudah beranak satu. Nafsuku jadi semakin tidak terkendali. Tanpa malu-malu, aku merintih-rintih sembari mengatakan bahwa aku merasa enak luar biasa. Sampai akhirnya kulihat Tante Abel menurunkan celana dalamnya sendiri. Dia bugil di hadapanku! Aku sempat berpikir waras, kami tidak boleh melakukan semua ini! Tapi waktu itu Tante Abel sudah menduduki kedua pahaku yang mengangkang. Kemaluannya yang berbulu rimbun tepat menempel di Penisku. Aku menelentang pasrah.

“A..a..aku… tttakut, Tante…,” kataku ketika kurasakan Tante Abel mulai menyusup-nyusupkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya yang basah. Tante Abel tidak peduli, kurasakan ujung batang penisku sudah masuk. Tapi bagaimanapun Tante Abel mengalami kesulitan karena aku masih setengah hati. Tante Abel menciumi mukaku. Bibirku dilumatnya kembali, lalu lidahnya menjulur-julur menjilat-jilat. Sementara itu, tangan kanannya terus berusaha menjejal-jejalkan batang penisku ke dalam lubang surgawi miliknya.

“Putra, please..,” desahnya di telingaku. “Kamu udah gede, kamu udah boleh, Bob…”

Entah bagaimana, nafsuku kembali berkobar. Penisku yang tadinya mulai agak kendor karena aku ketakutan, kini kembali menegang keras. Tante Abel kegirangan, mukaku diciuminya dengan gemas. Pinggulnya bergerak-gerak sementara tangan kirinya terus menuntun Penisku memasuki vaginanya. Uhhh, nikmat luar biasa. Aku menggigit bibir. Sleeeppp… terasa Penisku melesak semakin dalam. Inci demi inci, sampai akhirnya masuk semua.

Tanteku yang manis itu mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya. Maju, mundur, kiri, kanan, berputar-putar. Nikmatnya sungguh tidak terkatakan. Batang penisku serasa disedot dan dipelintir-pelintir. Aku belum pernah merasakan surga dunia senikmat itu, maka aku tidak tahan. Baru beberapa goyangan, tanpa dapat kucegah sedetikpun, aku “muncrat”. Air maniku menyembur-nyembur entar berapa kali, menyirami vagina Tante Abel yang kurasakan berkedut-kedut. Itulah untuk pertama kalinya aku mencapai orgasme yang sesungguhnya, setelah sekian lama aku hanya dapat merasakannya dengan “ngocok” di kamar mandi.

Aku tidak tahu bagaimana perasaan Tante Abel waktu itu. Aku juga belum mengerti bahwa waktu itu dia sangat kecewa karena birahinya tidak mencapai puncak. Yang jelas, kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Perasaanku tidak karuan. Menyesal, takut, malu, campur aduk jadi satu. Tiba-tiba Tante Abel menangis sesenggukan. Aku jadi semakin tidak enak hati. Dengan sok gentle, aku memeluk tubuhnya yang telanjang dari belakang. Aku meminta maaf dan berusaha membujuk. Tapi kata Tante Abel, dia justru malu telah menjerumuskan aku.

“Tapi aku nggak nyesel kok, Tante…,” kataku. Tante Abel memalingkan mukanya menatapku. “Betul?” tanyanya. Aku mengangguk. Entah kenapa, tahu-tahu “anu”ku berdiri lagi. Kulihat muka Tante Abel memerah, dia pasti dapat merasakan karena batang penisku yang menegang itu menempel rapat pada pantatnya. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan kami berpelukan. Entah siapa yang memulai, kami lalu berciuman bibir. Nafsuku berkobar-kobar lagi.

Tante Abel mengajakku masuk ke kamar. Dengan tubuh bugil, kami berangkulan menuju kamar Tante Abel di belakang. Tiba di sana, Tante Abel rebah duluan di atas ranjang. Aku menyusul. Dua-tiga kali Tante Abel masih bertanya lagi, apakah betul aku tidak menyesal dan tidak menganggapnya sebagai perempuan murahan. Lalu kami berciuman bibir, lama dan penuh nafsu. Kurasakan Penisku sudah luar biasa keras, aku siap untuk meniduri tanteku sekali lagi. Tapi kata Tante Abel, kali ini aku harus sabar. Aku harus bisa membuat Tante Abel mencapai puncak kenikmatan seperti yang tadi kualami. Maka, dia mengajariku segala macam teknik merangsang birahi perempuan.

Dimulai dari berciuman. Dia mengajariku cara-cara memainkan mulut dan lidah. Setelah kuikuti, ternyata memang lebih enak. Lalu dia menyuruhku menciumi lehernya. Aku berhasil membuat sebuah cupangan, tapi Tante Abel lekas-lekas mengingatkan bahwa cupangan di leher akan mudah ketahuan orang. Maka, dia minta aku mencupang toketnya. Tanpa diminta pun, aku akan dengan senang hati melakukan itu. Toketnya itu luar biasa bagus. Putih, besar, bulat, kencang dan padat. Aku mencium dan meremas-remas seperti tanpa rasa puas. Dan aku jadi tambah bernafsu karena perbuatanku itu membuat Tante Abel menggelepar-gelepar keenakan. Dia bahkan jadi seperti tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata jorok, di tengah-tengah desahan dan rintihannya.

Aku sebenarnya sudah sangat tidak sabar, ingin segera memasukkan senjataku lagi ke dalam lubang surgawi Tante Abel. Tapi Tante Abel belum memberi isyarat untuk itu. Dia malah memintaku mencumbui selangkangannya dulu. “Sini, Sayang…, ciumin ini Tante …,” pintanya sambil berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.

Tanpa membuang waktu lagi, aku terus menyerudukkan mulutku pada celah vagina Tante Abel yang merekah minta diterkam. Benar-benat lezat. Vagina Tante Abel mulai kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan lidahku menjilat-jilat deras seluruh bagian liang vaginanya yang telah dibanjiri lendir. Berulangkali kugelitik kelentitnya dengan ujung lidah sambil kukenyot dalam-dalam. Rambut kemaluan Tante Abel lebat dan rindang. Cupangan merah pun kucap pada seluruh bagian daging vagina Tante Abel yang menggairahkan ini. Tante Abel hanya menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik tadi, Tante Abel terus-menerus melakukan remasan pada buah dadanya sendiri sambil sesekali memelintir puting-putingnya. Berulang kali mulutnya mendesah-desah dan menjerit kecil saat mulutku menciumi mulut vaginanya dan menarik-narik daging kelentitnya.

“Ooohhhhh, Puuuttrrraaaaaaa…, enak banget, Sayaaang… Teruuss…., teruuuuussssss….. Please…, yaaaahhhhhh “

Beberapa menit kemudian, aku merayap lembut menuju perut Tante Abel, dan terus merapat di seluruh bagian buah dadanya. Dengan ganas aku menyedot-nyedot puting payudaranya yang kini mengeras dan membengkak. Kembali kubuat beberapa cupangan di buah dadanya. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting susu Tante Abel secara bergantian, kiri dan kanan. Aku kini benar-benar tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Tanteku. Tanpa menunggu komando dari Tante Abel, aku membimbing masuk Penisku pada liang vaginanya.

Tapi Tante Abel masih sempat mengubah posisi. Seperti yang pertama, kembali dia berada di atas. Ternyata itu memang disengaja oleh Tante Abel karena posisi begitu lebih menguntungkan aku. Aku jadi lebih tahan, sebaliknya Tante Abel akan cepat mencapai orgasme. Benar saja. Tante Abel langsung menggenjot cepat karena rupanya dia sudah sangat keenakan dan hampir mencapai puncak. Aku menelentang saja sembari meremas-remas toket montoknya yang bergelantungan terkontal-kantil. Sesekali aku mengangkat pantat mengikuti komando Tante Abel. Tidak begitu lama, Tante Abel mengajakku segera membalik posisi.

“Ooouhkk.. yeaaah… ayoo.. ayooo… genjot Putraaa..!” teriak Tante Abel saat merasakan batang kejantananku mulai menikam-nikam liar vaginanya. Dalam posisi di atas, gerakanku lebih leluasa. Aku semakin meAbelkatkan irama keluar masuk Penisku. Tante Abel hanya berpegangan pada kedua tanganku yang terus meremas-remas sepasang buah dadanya. Kedua kakinya mengangkang lebar, pinggulnya terangkat-angkat seirama dengan hunjaman Penisku.

“Blesep… sleeep… blesep..!” suara senggama yang sangat indah mengiringi dengan alunan lembut. Tante Abel mendesah, mengerang, dan merintih-rintih.
“Aaaarghh…, enak sekali, Ivaaannnn….., Tante suka Penis kamuhhh… Terus, Sayaaang…, teruuuussssss….., ssssshhhhhh….., aaaaarrggghhhhh….”

Aku semakin bersemangat, kusodok-sodokkan batang penisku semakin kuat dan cepat. Itulah nikmat bersetubuh yang pertama kali kurasakan. Aku masih belum bisa bertahan lama saking enaknya. Hanya beberapa menit, puncak klimaks itu kucapai dengan sangat sempurna, “Croooot… crooot… crooooot..!”
Pada saat hampir bersamaan, tubuh Tante Abel mengejang, pinggulnya terangkat tinggi-tinggi.

“Oooorrrrgghh.. sssssshhhhh… aaarrrgghhhh..,” seru Tante Abel menggelepar-gelepar ketika menggapai puncak kenikmatannya. “Tanteeehhh.…….” “Oooohhhh, Putraaa…. Teken terus, Puuutttt, Tante masih enak…, teken terus, yaahhh…” “Putra kayak mimpi, Tante….,” bisikku polos. “Hm-mm, Tante juga, mimpi di surga… Peluk Tante, Sayang…”

Selanjutnya, dengan Penis yang masih tetap menancap erat pada vagina Tante Abel, aku jatuh tertidur. Tante Abel juga. Kami baru terbangun ketika si Mbok pulang dari pasar. – Koleksi cerita sex, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita horny, cerita hot 2016.

Cerita Sex 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *