Cerita Seks Dewasa Penjelajah Salon Plus-Plus 1

Posted on
Nonton Video Bokep JAV

Cerita Seks Dewasa Penjelajah Salon Plus-Plus 1 Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Semi, Cerita Panas, Cerita Horny Tahun 2005 ada sebuah kenangan indah di daerah wisata Kopeng masuk wilayah Kabupaten Salatiga di Jawa Tengah dan waktu itu aku masih bekerja di salah satu perusahaan jasa pelayaran di Semarang.

Pak Bram, sebut saja begitu adalah pimpinan tempatku bekerja, dan beliau saat itu berusia kurang lebih 48 tahunan namun potensi seksualnya masih hebat. Aku sendiri menempati posisi deputy dari Pak Bram dan semua sepak terjangnya sudah ada pada tanganku semua dan aku tetap menjaga kepercayaannya padaku. Itulah kenapa sekretarisnya selalu berganti-ganti dan selalu muda dan cantik-cantik padahal menurutku perusahaan yang tidak begitu besar itupun belum membutuhkan seorang sekretaris. Hanya saja saat jam istirahat dan menjelang kepulangan Pak Bram, si sekretaris tadi disibukkan dengan acara office party.

Cerita Seks Dewasa Penjelajah Salon Plus-Plus 1
cerita seks, cerita dewasa, cerita  ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita semi


Kalau sudah jam-jam sibuknya Pak Bram itu, kami seluruh kantor tidak berani mengganggu acaranya yang membutuhkan waktu, biasanya rata rata 45 menit sampai 1 jam. Dan entah apa yang mereka lakukan berdua dengan sekretarisnya selama itu, namun yang jelas setiap kali office party itu berakhir, Pak Bram kelihatan lebih fresh dan sebaliknya sekretarisnya nampak sedikit kusut dan menampakkan ekspresi kurang puas. Seluruh telepon yang minta sambung ke Pak Bram pasti tidak akan disambungkan dengan alasan keluar kantor atau lunch.

Suatu hari datanglah seorang agen asuransi seorang wanita untuk menawarkan jasa ke kantor kami, dan saat itulah Pak Bram melihat wanita itu dan diminta masuk ke ruangannya.

“Saya Sofi,” wanita itu memperkenalkan dirinya.
“Bram,” seraya mengulurkan tangannnya.
“Saya Prasetyo,” sahutku memperkenalkan diriku.

Singkatnya Pak Bram nampaknya tertarik dengan jasa asuransi itu dan mengikut sertakan seluruh karyawan perusahaan tempat kami bekerja. Dan saat itu juga Pak Bram menandatangani perjanjian dengan
perusahaan asuransi dari Mbak Sofi.

“Every thing is OK, jika ada apa-apa hubungi saja Pak Pras, yach,” kata Pak Bram mengakhiri perjanjian kami.

Aku akui memang wanita itu pandai dan menarik sekali cara perkenalannya atau kami sudah terlena oleh kemolekan tubuh wanita ini. Seminggu kemudian Mbak Sofi mengantar polis-polis ke perusahaan kami dan kebetulan Pak Bram sedang dinas ke Jakarta dan kali ini aku yang harus menemui.

“Maaf Pak Bram lagi ke Jakarta, silakan duduk! mau minum apa?” kataku menyambut mereka di ruanganku.
“Apa saja dech yang segar,” sahut Sofi.
“Oh iya, Pak Pras, kenalkan ini asisten saya, namanya Yeni,” kata Sofi memperkenalkan rekan kerjanya.

Acara serah terima polis berlangsung begitu cepat dan sejenak kami hening dan terdiam tiba-tiba, suasana terlihat kaku.

“Wow, selera Mas Pras boleh juga,” kata Sofi tiba-tiba.
“Em, emangnya kenapa Mbak?” tanyaku semakin akrab saja.
“Tuh…” kata Sofi sambil menunjuk ke arah kalender meja yang bergambar cewek bule polos dengan pose mengundah nafsu yang melihatnya.
“Yach maklumlah aku khan laki-laki Mbak, nanti kalo gambarnya cowok wah.., lha bisa berabe,” sahutku sekenanya.
“Begini Pak Pras, selain menyampaikan polis kami ke sini juga ingin memberikan bonus untuk perusahaan ini karena omzetnya besar sekali,” kata Sofi di sela-sela gurauan kami.
“Baik nanti saya sampaikan ke Pak Bram, terus…” pembicaraanku di sela oleh Sofi.
“Begini Pak Pras nanti kita bicarakan di dinner party, kita akan kasih tau tempatnya,” kata Sofi sambil menatap tajam ke arahku.

Besok adalah hari Sabtu, biasanya kantor kami masuk setengah hari, dan siang nanti aku harus jemput Boss yang datang bersama sekretarisnya. Dalam perjalanan HP-ku berdering dan nampaknya dari Sofi.

“Prasetyo di sini,” jawabku.
“Mas Pras, entar malem bisa khan? tempatnya rahasia, nanti sore kita jemput di kantor,” kata Sofi.
“Apaan sich pakai rahasia segala,” tanyaku yang membuat Pak Bram penasaran.
“Sebentar Fi, aku lagi bersama Pak Bram dan Mbak Niken,” jawabku.
“Pak Bram, ini dari Sofi mengajak makan malem entar malem, dan mereka akan membicarakan soal bonus, akan tapi dia merahasiakan tempatnya,” aku menyampaikan pesan Sofi semua ke Pak Bram.
“Mas, aku ikutan yach,” rengek Niken manja.
“Hem emhh…” sahut Boss tuaku.
“OK, Mbak Sofi nanti sekalian Mbak Niken juga ikutan,” aku menyambung pembicaraan ke Sofi. Sofi terdiam sejenak lalu, “Its OK, Yeni juga kau ajak kok, pokoknya siiplah, bye,” Sofi menutup pembicaraan kami.

Kami berbalik arah atas perintah Pak Bram untuk menuju kantor karena sebentar lagi sore dari pada ke rumah Pak Bram nanti urusan sama istrinya bisa berabe. Kantor sudah lengang karena sudah pada pulang sejak pukul 13.00 tadi dan tinggal kami bertiga serta satpam penjaga kantor.Begitu sampai di kantor Bram dan Niken rupanya tidak dapat menahan gejolak birahinya dan dengan terburu-buru masuk ke ruangan Bram namun pintu masih terbuka sedikit. Akhirnya aku tahu apa yang dilakukan Bram dengan sekretaris-sekretarisnya dahulu, juga dengan Niken dengan mata kepalaku sendiri.

Desahan nikmat Bram semakin keras dari ruanganku yang kebetulan bersebelahan, demikian pula desah Niken.

“Niken, aahhmmm.. mmmpphh… hisepph… aaaghhh…” desah Bram membuat birahiku perlahan bangkit dan menjalar ke selangkanganku untuk mengacungkan diri.

“Braaamm… gelliii,” desah Niken kemudian. Namun yang aku dengar hanya desah dan dengusan nafas Bram yang tenggelam dalam birahinya, dan kemana desah manja Niken? tanyaku dalam hati. Beberapa saat kemudian,
“Nikenhhh… ahhgghhh.. kku.. kell…” kata Bram terbata-bata menahan laju spermanya.
“Aaaghhh…” teriak Bram keras menyemburkan spermanya diiringi suara gaduh dari ruangannya, sepertinya benturan kursi dengan meja.
“Emmmpphhh…” Niken mendesah lirih. Sebentar kemudian terdengar orang mengguyurkan shower, pasti si Niken lagi bersih- bersih, tebakku. Lalu ruangan itu kembali hening, hanya obrolan-obrolan pelan dari ruangan itu, kadang aku dengar suara tertawa kecil dari Niken.

“Pras, sini lho jangan bengong di situ,” suara Bram keras memanggilku saat aku mulai menjelajah internet di PC-ku.
“Sebentar Boss,” sahutku dan dengan sengaja aku buat lama agar mereka sempat merapikan pakaian masing-masing.

Lebih kurang tiga menit berlalu aku baru berani mengetuk pintu Boss yang terbuka sedikit namun aku masih ragu-ragu.

“Masuk Pras, kemarilah kita berpesta,” kata Bram datar.

Alangkah terkejutnya aku ketika masuk ke ruangan itu melihat Niken tergolek bugil di meja Bram, sementara Bram masih menghisap puting Niken, dan jari tengahnya bekerja di vagina Niken yang terlihat basah oleh sperma Bram. Sperma Bram nampaknya cukup banyak sampai meleleh di meja di sela-sela bongkahan pantat Niken yang padat kenyal. Cerita Sex Penjelajah Salon Plus-Plus

“Mmm.. maaf Pak,” kataku tergagap, namun aku melihat Niken tidak bereaksi dan masih merem melek oleh permainan jari Bram di vaginannya.
“Pras, ayo bantu aku puasin Niken, aku udah lumayan capek Pras,” kata Bram datar dan tidak aku perkirakan sebelumnya.

Melihat pemandangan sedap itu penisku tegang seketika dan berereksi maksimal dan membayangkan bagaimana kalau vagina sempit itu aku jejali dengan penisku sepanjang 16,5 cm dengan diameter 4 cm.

“Jangan bengong, tunggu apa lagi!” teriak Bram.

Aku menghampiri mereka berdua dan sedikit takut juga pada Bram meski sebelumnya aku pernah threesome waktu kuliah dulu dengan teman-temanku. Akan tetapi yang aku hadapi ini situasinya lain, karena dia adalah Boss-ku dan sekretarisnya.

Niken menatapku penuh harap dan dari mimiknya aku tahu dia sangat mengharapkan permainan seksnya, tidak ada pada satu pihak dan kesimpulanku Niken belum menggapai orgasmenya. Aku menghampiri Niken dari sisi meja lainnya kemudian aku kecup mesra sekali bibirnya sambil kubelai lembut rambutnya. Kami bercumbu lama sekali dan di sela-selanya kadang Niken mendesah oleh permainan jari Bram, rasanya tidak menarik lagi baginya.

“Emmhhh.. Prasshh…” desah Niken yang tampak semakin gelisah menggapai orgasmenya yang gagal bersama Bram.

Aku maklum, memang seusia Bram itu nafsu kuda tenaga ayam karena usia. Tangan Niken mulai menggapai zipper lantas dengan cepat Niken mengeluarkan isi celanaku yaitu batang pejal yang hangat.

“Prasshh… aaakhh…” Niken menggapai-gapai kepalaku untuk segera menghisap putingnya, sementara tangan kirinya mengocok dengan lembut penis kesayanganku.

“Pras.. ayooo!” rengek Niken, namun aku melirik ke arah Boss-ku yang tampak seperti anak kecil di tetek ibunya.

Tampak olehku penis Bram lucu bentuknya, kecil sekali, pantas saja Niken masih terangsang.
Bram memberiku isyarat agar aku segera melakukan permintaan Niken, lalu aku pelorotkan sedikit celanaku. Aku kemudian berjalan ke sisi lain meja dan mengatur posisi untuk segera melakukan penetrasi ke vagina Niken.

“Aoohh mmpphh… aaaghh…” Niken menggumam ketika setengah penisku dengan mudah membongkar rongga rahimnya yang licin oleh sisa sperma Bram.

“Ahhggh ssshhh.. aaaghkkk…” Niken tampak meringis ketika aku membenamkan seluruh batang penisku ke vaginanya dan terasa olehku ujung penisku mendesak rahim atasnya.

Aku diamkan sesaat lamanya penisku tenggelam dalam rahimnya dan menikmati kehangatan yang terpancar dari genital kami masing-masing. Kemudian aku kocok penisku perlahan dan lembut agar kehangatan dan kasarnya lebih terasa bergesek dengan bibir vaginannya. Niken tampaknya suka dengan apa yang kulakukan, terlebih saat Bram mulai memainkan bukit indah di dadanya dimana putingnya masih nature dan kenyal.

“Aaahgghh… ssshhh… sshhh… aagghhh…” Niken mulai menggelinjang lembut menyambut apa yang ia harapkan. “Prasssh… aagghh.. kuu… agghh… aaakkhh…” sampai juga Niken pada momen yang diharapkannya. Akan tetapi Niken masih menguasai orgasmenya, sehingga ia tidak larut dalam kenikmatan pertamanya.

Aku memberinya waktu untuk beristirahat, dan ketika aku hendak mengambilkan air mineral, buru-buru Bram mencegahnya dan ia memberiku isyarat agar tetap di dekat Niken, kali ini Bram yang melayani kami.

Setelah itu ia ke bathtub dan berendam air hangat di sana. Aku mengambil tissue di meja Bram dan aku sapukan lembut di bibir vagina Niken yang basah oleh cairannya sendiri dan sisa-sisa terakhir sperma Bram. Aku jongkok di sisi meja, lalu aku buka lebar-lebar kedua kaki Niken, nampaklah kini bongkahan daging kemerahan yang rambutnya tercukur habis lagi bersih. Kutempelkan bibirku di bibir vaginanya untuk melakukan oral seks, dan ketika aku buka bibir vaginanya dengan telunjuk dan jari tengahku terciumlah bau harum yang khas dari Niken.

Aku menjilat dari pangkal anus Niken sampai sisi vagina bagian depan begitu berulang-ulang dan aku sela dengan gelitik ujung lidahku di mulut vaginanya.

“Ooogghhk.. aaagghhmm.. punnhh.. aaahh… Prassstth… aaaghh…” Niken melonjak-lonjak, pinggulnya goyang kiri-kanan di atas meja berlapis kaca. Bokong Niken leluasa bergerak karena sperma Bram dan mani Niken sendiri bercampur meleleh di permukaan kaca meja tersebut.

Setelah agak lama oral seks terhadap Niken aku lalu berdiri dan melepas semua pakaianku yang sedari tadi belum sempat terlepas. Niken membuka lebar-lebar kedua pahanya dan memegangi kedua tungkainya, matanya terpejam menyambut sensasi yang segera ia rasakan. Kedua bibirnya yang seksi itu ia buka memancing birahiku untuk segera menyetubuhinya.

Aku remas sendiri penisku dan semakin mengeras dan panjang saja di hadapan Niken, kemudian perlahan aku tempelkan di mulut vagina Niken. Tepat saat Niken menyibakkan rambutnya aku hujamkan pelan memasuki rongga rahimnya. Cerita Sex Penjelajah Salon Plus-Plus

“Prassshh… aaaooookkh mmmphh… mmpfff…” gumam Niken.
“Mmmpphh… puaskan aku yach sayang…” rengek Niken manja.
“Slerphh…” 16,5 cm penisku kembali menjejali rahim Niken.

Aku membiarkannya diam terbenam di rahim Niken sambil memainkan otot- otot penisku untuk memberi rasa geli pada Niken.

“Prasshhh… ooaaakhh… aakhhh… mmpphhh.. nikmat sekali, pintar kamu Pras…” puji Niken.
“Mau yang lebih nikmat say..?” tanyaku.
“Mpphhh…” Niken hanya memejamkan matanya menyambut apa yang akan aku lakukan atas vaginanya.

Pelan namun pasti aku mulai mengocok lagi lubang rahimnya yang masih perat dan sempit itu.

“Aaaghh… aaghhh… ssshhh mmfffh… terusshh… aaannggghh…” ceracau Niken.

Aku sedikit menarik dadaku agar tubuhku tegap berdiri dengan begitu kepala penisku akan dengan mudah menyentuh G-spot-nya.

“Aaakkhhh.. yacchhh.. yaahh… mmpphhh… aaanggghhh yaahhh,” Niken semakin tenggelam dalam irama birahinya. Ia meremas sendiri kedua payudaranya dan kadang putingnya ia tarik sambil dipilin-dilepas lagi dan diulangi lagi berulang sehingga ia sendiri semakin tenggelam dalam ritme yang mengasyikkan ini.

“Aaaghkku.. agh ahhk… aaahh… aahh.. aamphh…” Niken melepas kedua tangannya dari dadanya dan berpegangan erat pada kedua sisi meja.

Kepalanya oleng seperti orang kesurupan lalu dadanya ia busungkan, pinggulnya bergelinjang penuh dengan gairah birahi yang mendalam. Kami semakin jauh tenggelam dalam irama permainan ini dan tak menghiraukan lagi Bram yang dengan santainya menyaksikan permainan panas kami. Namun ketika Niken mulai tak dapat menguasai dirinya tampaknya Bram horny juga karena aku melihat tangan kanannya terlihat mengocok penisnya sendiri dan yang
kiri memegang segelas Sampanye.

“Nikeenn.. aak… aahhh…” aku tak sanggup menahan laju spermaku dan bersamaan itu pula.
“Prassshhh.. aaakh… aaaghhh…” Niken menjerit dan memegang erat kedua sisi meja, pinggulnya ia hentakkan kencang-
kencang dan dikombinasikan dengan goyangannya. Apa yang Niken lakukan membuatku semakin tak tahan, dan sedetik kemudian aku memancarkan maniku banyak sekali.

“Aaagghh…” desahku keras. Rupanya denyutan penisku saat maniku memancar menyebabkan Niken kegelian dan buru-buru ia bangun lalu mendekapku erat-erat.

Kami berdekapan mesra sampai tetes maniku terakhir aku rasakan. Sekejap aku melihat wajah Bram terlihat tegang dan kedua giginya terkatup rapat, sementara tangan kanannya terlihat semakin cepat mengocok penisnya dan tiga detik kemudian ia terlihat puas melempar senyum ke kami.

“Hem.. udah puas Nik?” suara Bram itu mengagetkan kami. Niken menoleh ke arah Bram di bathtub lalu menganggukkan kepalanya, lalu kami french kiss lama bak sepasang kekasih.
“Terima kasih Pras, entar malem pasti lebih hot,” bisik Niken.
“Ha..” aku terkejut.
“Udah ach entar tau sendiri,” bisik Niken.
“Hayoo… rencana busuk apa itu kok bisik-bisik?” tanya Bram berkelakar.

Niken tersenyum kecut lalu menyusul Bram ke bathtub. Setelah merapikan pakaianku, aku kembali ke ruanganku lalu mandi dan aku teridur di kursi kerjaku. Singkat dan tak kuduga sebelumnya percintaanku dengan Niken namun masih terasa gigitannya itulah kesimpulanku saat bercinta dengan Niken di ruang Bram.

Tak terasa sudah jam lima sore saat aku terjaga namun kulihat ruangan Bram tertutup rapat, khawatir janji dengan Sofi molor maka pintu aku ketuk pelan dan kudengar suara Niken mempersilakan aku masuk.

“Masuk Pras!” suara Niken mempersilakan aku masuk.
“Mana Pak Bram?” tanyaku saat melihat Niken.
“Sedang keluar,” kata Niken setengah mendesah.
“Kenapa..?” aku membalasnya dengan setengah berbisik di belakang telinga Niken.
“Masih terasa mengganjal di sini Mas..” Niken menunjuk ke selangkangannya yang ia buka melebar.
“Punya Mas besar dan panjang sich dan pokoknya mmmpphhh…” imbuh Niken seraya mengusap-usap vaginanya sendiri dan membuat gerakan bak disetubuhi.
“Akh udah ah, entar ketahuan Bram lho,” kataku sambil membimbing Niken berdiri.

Kemudian kami bersiap menyambut Sofi dan Bram yang akan menjemput kami petang ini. Kami duduk di lantai atas kantor kami sambil minum ginseng yang dibelikan oleh security kami. Tampak di luar masih terlihat kesibukan pelabuhan yang tak pernah akan berhenti, kami pun terlibat obrolan santai. Akhirnya aku tahu bahwa Niken menolak kalau dituduh simpanan Bram dan yang ia lakukan hanyalah demi uang dan karir. Ia mau berbuat begitu karena dikhianati oleh pacar yang amat disayanginya yang tega menghamili gadis lain. Dari Niken juga aku tahu bahwa Bram itu orangnya “Edi Tansil” alias Ejakulasi Dini Tanpa Hasil.

“Baru diisep dua kali aja sudah ngecritt.. alias maninya muncrat,” kata Niken pada suatu kesempatan. Kasihan benar kamu Niken, bisikku dalam hati. Lalu aku menarik nafas dalam-dalam.

“Oh iya Niken, apa maksud kamu tadi itu?” selidikku.
“Yang mana?” tanya Niken lupa.
“Itu lho, katanya nanti malem akan lebih hot!” sahutku. Niken termenung sesaat.
“Sebetulnya ini rahasia dari Bram, cuma karena tadi aku sangat puas dengan permainan Mas Pras akhirnya aku kelepasan ngomong,” jelas Niken.
“Begini Mas Pras, sebetulnya Bram sudah tahu kalau Sofi akan memberikan bonus dalam rangka aplikasi asuransi kemarin,” imbuh Niken.
“Terus…” tanyaku penasaran.

Niken sepertinya keberatan, lantas terdiam lalu berdiri dan meghisap dalam-dalam filter kesukaannya. Matanya menerawang jauh ke laut lepas seolah ingin menumpahkan semua beban hidupnya di sana.

“Nik..! kamu baik-baik saja kan?” aku bertanya pada Niken dan menghampirinya lalu kudekap Niken di samping kiriku.
“Nggak! nggak apa-apa kok Mas,” tukas Niken membalikkan badannya menghadapku.
“Tapi wajah kamu kok keruh begitu..?” aku mencoba agar dia mau curhat padaku.
“Mas Pras! tapi ini sangat rahasia, jadi tolong simpan untuk Mas Pras saja,” pinta Niken.

Aku tidak berkata sepatah katapun karena aku rasa Niken sudah percaya kepadaku.

“Begini Mas…!” Niken mulai curhatnya kepadaku panjang lebar yang intinya sikap Bram yang mulai terlihat mencampakkan Niken seperti baru saja terjadi antara aku, Niken dan Bram dimana Bram mengijinkan Niken aku setubuhi.
“Habis manis sepah dibuang,” kata Niken penuh kekesalan.
“Niken! dunia ini tidak hanya milik Bram atau milik kamu ataupun milik aku saja, tetapi dunia ini luas,” hiburku.

Secara jujur aku akui bahwa akhir-akhir ini aku juga merasa kesal dengan Bram yang semakin otoriter saja dan ini bertentangan dengan pribadiku.

“Sebenarnya aku sudah punya perusahaan sendiri yang aku percayakan pada salah seorang sahabatku.

Sekarang masih tahap trial running dan membutuhkan accounting officer, kebetulan Niken kan background-nya accounting punya dan kala Niken bersedia Niken boleh berkarir di sana,” kucoba memberi Niken alternatif yang baik. Cerita Sex Penjelajah Salon Plus-Plus

“Tapi…” Niken tampaknya ragu namun segera aku yakinkan.
“Nik! apakah aku seperi Bram dan… emhh, entah apa yang terjadi tadi tiba-tiba aku tak sanggup menolaknya?” kutatap matanya dalam-dalam untuk meyakinkannya, lalu aku yakinkan lagi dengan sebuah kecupan mesra di dahinya.
“Aku tahu dan maklum kepada Mas Pras sebagai lelaki muda dan…” Niken berhenti bicara sejenak seperti berpikir sesuatu.
“Dan jantan…” tukas Niken dengan senyum manisnya yang merebak membuat wajahnya kembali bersinar.

Niken menghisap dalam-dalam kretek filternya mild-nya, lalu mencampakkan puntungnya ke vas bunga dekat jendela.

“Mas, acara nanti malam adalah rencana Bram agar dapat berkencan dengan si Sofi dan Yeni bersama kita,” jelas Niken.
“Bersama kita…” aku terheran.
“Yach fivesome lah… dan sudah jadi rahasia umun kan ada beberapa jasa semacam itu yang memberikan bonus service yang hot,” kata Niken datar.
“Tapi Mas Pras nggak usah kuwatir, aku akan melampiaskan semua kekesalanku atas Bram pada Mas Pras, so siap-siap saja yach,” ancam Niken dengan senyumnya yang seksi yang semakin membuat hatiku
berbunga.
“Dan Mas Pras akan jadi raja malam ini,” ejek Niken.
“Gila kali…” kataku pelan dan tiba-tiba saja HP-ku berdering.
“Yes Boss…” jawabku pada Bram.
“Aku sampai di Gajah Mada nich, jadi siap-siap saja, sekali celup masih bisa kok Pras,” kelakar Bram.

Aku tidak merespon kalimat terakhir Bram tadi hingga Bram menutup pembicaraan kami.
“Oh iya, kalian langsung saja ke Kopeng (Bram menyebut nama salah satu wisma), kita ketemu di sana,” ajak Bram.
“Ok, Niken ayo kita bersiap.” Aku menggandeng Niken menuruni tangga kantor kami menuju Kijang kesukaanku. – Koleksi cerita sex, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita horny, cerita hot 2016.

Cerita Sex 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *