Cerita Seks Hot IGO Binalnya ABG Club Malam Versi III

Posted on
Nonton Video Bokep JAV

Cerita Seks Hot IGO Binalnya ABG Club Malam Versi III  Bacaan Sex sebelumnya ialah Cerita Mesum Dewasa Nafsu Yang Liar Didalam Mobil Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Semi, Cerita Panas, Cerita Horny Malam itu Diskotik begitu ramai, untunglah JJ cukup dikenal disana hingga tak susah untuk mendapatkan tempat duduk. Ketika House Music bergema, kuajak Yudi jojing, 5 lagu telah terlewati, saat kembali ke tempat duduk kami, kulihat JJ berbicara dengan seorang bapak bapak seusianya, dia mengenalkanku tapi aku tak ingat lagi namanya.

Cerita Seks Hot IGO Binalnya ABG Club Malam Versi III
cerita seks, cerita mesum, cerita panas, cerita ngentot, cerita dewasa


Bercerita Sex – “Dia adalah orang keempat yang menginginkanmu” bisiknya setelah orang itu pergi. “Yeni mana?” tanya Yudi. “Ke toilet” jawab JJ. “Dia dapat orderan Quickie, kalau kamu mau bisa aku atur, kerja ringan duit lumayan, semalam bisa 3-4 kali kalau sama aku, paling lama 10 menit, harus pake kondom” bisiknya ditelingaku tanpa setahu Yudi.

Aku belum pernah melakukan hal seperti itu, tapi membuatku tertarik karena tentu mempunyai sensasi tersendiri.

“Aku belum pernah sih, tapi boleh juga dicoba sih” kataku tertarik. “Mau coba? Tapi tarifnya nggak sampai separoh biasanya, toh hanya oral, buka celana, nungging, selesai deh dan bayar ditempat” jelasnya disela hingar bingar musik. “Boleh” jawabku, uang bukanlah masalah kali ini, tapi sensasinya yang ingin kurasakan. “Tunggu sebentar” katanya lalu berdiri meninggalkanku.

Yeni sudah datang bergabung kembali dengan kami, dengan senyum mengembang di bibir dia lalu duduk di samping Yudi, matanya mengedip ke arahku penuh arti, lima menit kemudian JJ datang bersama bapak yang tadi.

“Tanpa oral, selesai atau tidak, 10 menit keluar” bisiknya sambil menyelipkan kondom ditanganku, sebelum aku digandeng menuju toilet.

Tak kusangka ternyata toilet laki laki penuh dan harus antri untuk memakainya, memang toilet laki laki lebih bebas, wanita bisa keluar masuk tidak seperti toilet wanita.

Sepuluh menit kami menunggu di depan toilet sebelum tiba giliran kami, toilet itu cukup sempit dan agak bau, entah bagaimana mereka bisa melakukan di tempat seperti ini.

Tanpa basa basi, Pak tua itu segera memelukku, meremas remas buah dada dan pantatku dengan kasarnya, diciuminya pipi, leher dan bibirku meski aku berusaha menutup mulut rapat rapat, aroma rokok bercampur alkohol tercium dari mulutnya.

Tanpa menghiraukan jamahan tangannya disekujur tubuhku, secepatnya kubuka resliting celananya dan kukeluarkan kontol yang sudah menegang, cuma sebesar genggamanku dan tak lebih besar lagi setelah kuremas remas dan kukocok.

Tangan tangan Pak Tua itu sudah menyusup dibalik kaos dan bra, melanjutkan remasan dan memainkan puting begitu mendapatkannya. Setelah memasangkan kondom, yang aku khawatir kebesaran hingga bisa terlepas, kulorotkan celana jeans beserta celana dalam sekaligus dan nungging di depannya dengan tangan bersandar pada dinding toilet.

Pak Tua itu mulai mengusap usapkan kontolnya pada memekku, tentu agak susah bagiku karena tanpa pemanasan, meski bukan pertama kali aku melakukan hal ini di toilet umum, tapi di tempat ramai seperti ini adalah pengalaman pertama, tentu hal ini menjadi kesulitan tersendiri.

Kubasahi kontol itu dengan ludah dan tanpa kesulitan dia mendorong masuk merasakan nikmatnya memekku, kontol kelima yang menikmatinya. Pak Tua mulai mengocokku dari belakang diiringi hingar bingar alunan Lemon Tree versi House Music yang menerobos masuk ke toilet.

Tak ada desahan kenikmatan, tak ada jeritan histeria, semua berlangsung seperti mesin, hanya kocokan, rabaan dan remasan diseluruh tubuhku menghiasi persetubuhan ini. Aku yang terbiasa main ditempat tenang dan romantis agak kesulitan menyesuaikan dan menikmati kocokannya meskipun aku berusaha menikmati sensasinya.

Alunan Lemon Tree versi House Music menerobos masuk ke toilet mengiringi kocokan kami, tanpa sadar tubuhku bergoyang mengikuti alunan musik itu dan sebelum lagu itu habis kurasakan denyutan denyutan mengenai memekku. Seperti kata JJ, semua serba cepat, mungkin hanya 2-3 menit dia mengocokku, lebih lama ngantrinya.

Aku segera berbalik menghadapnya, kulepas kondom dari kontolnya dan membuang ke tempat sampah. Setelah kuminta dia mengaitkan kembali bra-ku, kami merapikan pakaian masing masing. Pak Tua mengangsurkan beberapa lembar 50 ribu-an ketanganku lalu kami keluar bersama sama diiringi sorot mata menatap tajam dari para peng-antri toilet, aku tak peduli. Sungguh aneh, hingga kami berpisah di depan toilet aku tak tahu nama Pak Tua yang telah menjamah sekujur tubuh dan mengobok obok memekku barusan.

Ketika aku kembali bergabung dengan JJ, tak kulihat Yeni dan Yudi.

“Kok lama?” tanya JJ.
“Ngantrinya yang lama” jawabku pendek sambil meneguk Coca Cola yang sudah tidak dingin lagi.

“Gimana? Masih mau lagi? Kalo begini semalam bisa terima order lebih dari 5 kali nih, udah banyak yang menanyakan kamu tadi” kata JJ, tentu saja mereka semua tahu siapa si JJ, dan gadis yang bersamanya pasti adalah para anak buahnya.

“Satu dua lagi boleh juga sih” jawabku kepalang tanggung, malam ini aku benar benar di obral seperti pelacur jalanan.

“Kalau gitu tunggu disini aku carikan lagi yang tadi udah minta” jawabnya seraya meninggalkanku.

Kulihat Yudi dan Yeni sedang jojing di floor, seorang laki laki mendekatiku, mencoba bersikap akrab meski aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Sebenarnya bisa diduga maunya tapi aku pura pura nggak tahu, nggak enak rasanya kalau cari tamu tanpa setahu JJ karena dialah yang memiliki aku malam ini.

“Aku tadi lihat kamu keluar dari toilet” katanya, tapi aku cuek saja. “Emang kenapa?” jawabku, untunglah Yudi datang, tanpa Yeni, melihat kedatangannya laki laki tadi langsung mundur teratur. “Mana Yeni?” tanyaku. “Tuh ngelanjutin turun sama temannya” katanya sambil menunjuk ke floor, tapi tak terlihat dia disana.

JJ datang dan mengajakku ke tempat lain, tempat itu begitu ramai hingga untuk jalan saja susah, terpaksa aku harus merelakan buah tersenggol sana sini.

Kami menemui seorang anak muda cina di dekat DJ, dia sedang bersama temannya, kelihatannya sedang ON. Bergandengan tangan melintasi dance floor, kami menuju ke toilet seperti tadi, ternyata banyak orang sedang menunggu entah apa yang ditunggu.

“Kita ke VIP saja, kalau ngantri kapan mainnya” katanya seraya kembali menggandengku ke lantai 2.

Di salah satu ruangan VIP dia langsung masuk, tanpa kuduga ternyata ruangan itu sedang terjadi persetubuhan seru 2 pasang, sepintas aku mengenali salah satu dari gadis itu, hanya sesaat mereka terkaget atas kedatangan kami tapi langsung kembali ke urusannya masing masing.

“Mau disini rame rame atau di toilet itu, masih ada sofa kosong sih” katanya. “Disini aja deh, di toilet kurang enak” jawabku.

Sesampai di sofa kosong itu, seperti kedua pasangan itu, kami hanya membuka celana masing masing, tanpa banyak basa basi kupasangkan kondom pada kontolnya, agak susah karena masih belum tegang, kukocok dan kuremas sebentar supaya segera bangun, ternyata susah juga membangunkannya, memang pengaruh drug membuat susah terangsang, bahkan ketika kupaksa kupasangkan ternyata masih belum bisa.

Setelah beberapa menit kucoba ternyata masih juga belum berhasil, terpaksa aku harus mengulumnya, padahal itu diluar perjanjian tapi demi servis kulakukan juga. Beberapa kuluman membuahkan hasil, langsung kupasangi kondom dan kubasahi dengan ludah.

Aku sudah nungging siap menerima sodokannya dari belakang tapi dia justru membalik tubuhku, memintanya duduk selonjor di sofa, rupanya dia menginginkan dari depan. Dibuka kakiku lebar lebar seraya memasukkan kontol itu ke memekku, kontol keenam di hari itu, kocokannya langsung cepat dan keras, untung tadi sudah kulumasi dengan ludah, kalau tidak tentu lecet karena memekku belum basah.

Tengah asik kami bersetubuh, pasangan lain masuk ke kamar itu, kami semua terkejut sesaat tapi segera kembali melanjutkan tanpa peduli siapa yang masuk. Empat pasang dengan desahan yang tak karuan saling bersahutan mengiringi dentuman musik yang keras.

Ternyata tak secepat yang kuduga, tentu saja masih pengaruh drug yang dia minum. Aku kini duduk dipangkuanya berganti mengocoknya, kaos dan bra-ku sudah tersingkap hingga dada, maka dengan bebas diapun mulai mengulum putingku dikala aku tengah bergoyang pantat di atasnya, kalau dituruti dia sudah minta aku melepas kaos hingga telanjang, tentu saja kutolak.

Satu pasangan sudah menuntaskan hasratnya dan keluar, namun tak lama berganti dengan pasangan lain, entahlah tempat ini sepertinya memang disewa untuk dijadikan tempat pelampiasan nafsu. Pasangan demi pasangan sudah berganti keluar masuk tapi aku masih belum juga menyelesaikannya. Barulah ketika pada posisi dogie dia berhasil menggapai orgasmenya, sekitar 15 menit nonstop.

Belum selesai aku berpakaian dan merapikan make up, dia memberikan uang lalu meninggalkan begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun apalagi ciuman, sungguh aku diperlakukan seperti pelacur jalanan yang hanya menjadi tempat pelampiasan nafsu belaka, tanpa sentuhan romantisme sama sekali seperti selama ini yang aku lakukan pada tamu tamuku, bahkan namanya-pun dia nggak tanya dan akupun tak tahu.

Enam kontol sudah kurasakan hari ini, sama dengan rekorku sebelumnya, tambah satu lagi berarti rekor baru bagiku, dengan buru buru aku segera keluar kamar itu meninggalkan beberapa pasang yang tengah mengayuh nafsu birahi.

Baru beberapa meter keluar dari kamar VIP, seorang laki laki mendekatiku.

“Lily, tumben kamu berkeliaran ditempat seperti ini” sapa laki laki itu, aku tak terlalu mengenalnya karena tempat itu memang remang remang, mungkin juga salah satu tamuku.
“Siapa ya?” tanyaku mendekatinya, suaraku tertimpa kebingaran musik yang semakin menggelegar.

“Kebetulan kita kurang satu orang, ikut yuk, dari tadi aku nyari nyari tapi nggak dapat yang cocok” jawabnya agak teriak ditelingaku.

Setelah kuamati lebih seksama ternyata dia adalah teman dari tamu langgananku, aku mengenali meski tak pernah tidur dengannya.

“Eh kamu toh, sama sama dia?” tanyaku mengira dia sedang menemani temannya yang tamuku itu.

“Nggak, mana mau dia datang ke tempat beginian, gimana mau temanin aku nggak?” tanyanya, aku tahu sudah lama dia menginginkan aku tapi segan sama temannya itu padahal tak perlu begitu.

“Kemana?” tanyaku, tanpa menjawab dia menggandengku, ternyata kembali ke tempat VIP tadi.

“Tempat ini memang disewa untuk beginian, kami share menyewanya” jelasnya seraya memasuki kamar, anehnya sofa yang kutempati tadi masih kosong, seolah memang disediakan untuk aku.

Saat kulirik ke sofa lain, ternyata pasangan yang ada sudah berganti, sungguh cepat perputarannya. Seperti tadi, kamipun segera melepas celana, kondom yang kubawa sudah terpakai, sialnya dia juga nggak bawa.

“Ada yang bawa kondom nggak?” tiba tiba teriaknya entah ditujukan pada siapa.

“Ambil di tas biru itu” kata seorang gadis sambil menunjuk tas biru disampingnya karena dia juga sedang menerima kocokan dasyat dari pasangannya.

Setelah mengambil dan memasangnya, baru kusadari ternyata kondom itu berkepala seperti kelinci, aku bisa membayangkan kepala kelinci itu akan menyodok nyodok rahimku karena sebenarnya kontol itu sendiri sudah cukup panjang.

Tiba tiba aku teringat bahwa itu adalah kontol ketujuh, berarti pemecahan rekor, tanpa tersadar aku merinding membayangkan merasakan tujuh kontol berbeda dalam sehari, tapi segera tersadar saat kontol ketujuh itu mulai menyentuh bibir memek.

Kubasahi memekku dengan ludah saat dia mulai menyapukan kontol itu pada memek, tangannya menyingkap kaos dan bra-ku keatas sambil mendorong masuk kejantanannya memenuhi memekku. Dugaanku benar, kontol yang panjang ditambah kepala kelincinya menyodok rahimku dan mengocok serta mengaduk aduk memekku, aku menjerit mendesah nikmat, kenikmatan pertama dari tiga persetubuhan terakhir.

Kocokan demi kocokan, sodokan demi sodokan kali ini kuterima dengan penuh kenikmatan, tak kupedulikan lagi pasangan lain yang berganti keluar masuk, aku tengah merasakan nikmatnya sex ditengah kebingaran musik tecno yang mengalun tiada henti.

Bahkan saat ada pasangan yang bermain disamping sofa kami, karena semua sudah penuh, akupun tak peduli lagi, bahkan tak melirik sedikitpun siapa dia. Desah dan jeritanku seakan mengalahkan kerasnya musik itu saat aku dikocok dari belakang, serasa kepala kelinci itu semakin dalam dan mulai menggigit gigit rahimku, ada rasa sakit bercampur nikmat.

Dan akupun berteriak histeris, tak menyangka mendapatkan orgasme dari quickie dan suasana seperti ini, kulirik beberapa orang melihatku saat aku histeria orgasme, tapi siapa peduli. Kembali teriakanku terdengar beberapa menit kemudian saat kurasakan kepala kelinci itu membesar dan berdenyut kuat.

Denyutan demi denyutan kurasakan menghantam dinding dinding memekku hingga cengkeraman kuat pada buah dadaku tak kurasakan lagi dan kamipun melemas, kali ini aku benar benar lemas.

Aku masih tergeletak di sofa tanpa celana dan kaos berantakan saat dia kembali memakai celananya, diselipkannya uang di sela sela pahaku, setelah memberi ciuman di bibir aku ditinggalkannya sendirian dalam keadaan semula dan terkapar di sofa disekeliling manusia manusia yang tengah mengayuh bahtera birahi.

Begitu sadar bahwa masih ada orang yang mau pakai sofa ini, aku beranjak merapikan pakaian dan mengenakan kembali celanaku, baru kusadar kalau kaitan bra telah terbuka. Aku tak bisa memasang sendiri dalam keadaan seperti ini, mau minta bantuan kulihat semua sedang sibuk, akhirnya kuputuskan untuk melepas sekalian bra itu. Sebelum keluar kamar, kuhampiri wanita yang memberiku kondom tadi, mereka baru selesai menuntaskan hasratnya.

“Terima kasih kondomnya” kataku sambil mencium pipinya, dia hanya terenyum. “Lama banget” kata JJ setelah aku kembali, hampir setengah jam kutinggalkan dia.

Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya seraya menyerahkan bra-ku.

“Titip tolong disimpan, dari pada bongkar pasang lebih baik nggak pake sekalian” jawabku sembil tersenyum.

“Aku udah dapatkan seorang lagi” katanya, sebenarnya aku menolak, masih lemas karena orgasme barusan tapi JJ mendesak, sudah telanjur bikin janji untuk aku, nggak enak, desaknya.

Akhirnya terpaksa aku melakukannya sekali lagi, di toilet, delapan laki sudah kurasakan dalam satu hari, suatu rekor pribadi baru telah kuciptakan.

“Udah cukup ah, kita pulang yuk” ajakku sekembali dari toilet.

“Ly, terserah kamu mau nggak, ada anaknya cakep masih muda lagi, aku yakin kamu pasti menyukainya, kali ini terserah kamu deh” tawarnya.

“Udah ah, capek nih” tolakku, perasaan dari tadi juga terserah aku, tapi aku memang nggak nolak tawarannya.

“Kamu lihat aja dulu anaknya, kalau oke kita bawa dia ke hotel, aku ngalah deh” desaknya, ternyata justru dia menawari aku anak muda untuk dibawa ke hotel, apakah dia mau main bertiga? Entahlah, tapi aku tertarik dengan promosinya.

Aku terkesima melihat penampilan dan wajah Bobi, meski cahaya remang remang tapi bisa kulihat posturnya yang cukup atletis dengan pakaian ketat menampilkan lekuk sexy tubuhnya, wajahnya terlihat keras dan garang bukannya imut, justru menimbulkan kesan macho, sungguh membuat lemas lututku tapi aku harus menjaga image, tentu saja tak kuperlihatkan kekagumanku, bahkan aku berusaha bersikap cuek seperti biasanya saat baru berkenalan.

“Gimana?” bisik JJ. “Terserah deh, aku ngikut aja” jawabku berusaha menahan diri.

“Kalo gitu kita cabut sekarang” katanya lalu menghampiri Bobi dan kitapun segera pergi setelah mencari cari Yeni dan Yudi.

“Dia oke kan? Anggap hadiah dariku, selain itu aku ingin lihat bagaimana kamu kalau melayani tamu yang kamu sukai” bisiknya nakal dalam perjalanan menuju tempat parkir. Aku diam saja, tak sabar ingin segera sampai di hotel.

Begitu pintu kamar ditutup, aku tak bisa menahan gejolak nafsu lebih lama lagi, tanpa mempedulikan keberadaan JJ, kupeluk dan kulumat bibir Bobi dengan penuh gairah, seperti laki laki lainnya diapun membalas cumbuanku tak kalah ganasnya. Tangannya langsung mendara di dadaku, meremas remas buah dada yang tidak berpelindung, kubalas dengan remasan di selangkangannya yang sudah mengeras.

“Nggak usah segan, anggap aku nggak ada” komentar JJ melihat aku dan Bobi langsung beraksi, entah sindiran atau memang kemauannya seperti itu.

Tak lebih semenit kami sudah sama sama telanjang, pengamatanku benar, badannya benar benar sexy dengan kontol indah besar menggantung diantara kakinya, sunggu pemandangan yang begitu menggoda bagiku.

Aku langsung berlutut didepannya, menciumi dan menjilati sekujur daerah selangkangan dan kontolnya yang kurasakan begitu keras dan kenyal, Bobi mengimbangi dengan mengocokkan kontolnya pada mulutku hingga aku kewalahan dibuatnya.

Belum puas aku meng-oral tapi Bobi sudah memintaku berdiri, disandarkan tubuhku pada pintu kamar dan dia berlutut didepanku. Setelah mengatur posisi tubuhku yang nyaman, lidahnya mulai menjelajah di sekitar selangkangan dan berhenti di klitoris dan memek, menari nari dengan lincahnya, meski tak sepintar permainan JJ namun cukup untuk membakar birahiku yang sedang memanas.

Desahanku mulai mengerasm, tak peduli kalau orang lewat di depan kamar mendegarnya, terlalu nikmat untuk ditahan, apalagi ketika Bobi membalik tubuhku menghadap ke pintu lalu melanjutkan jilatannya pada pantat, tubuhku semakin membungkuk hingga lubang anusku bisa terjangkau lidahnya. Sungguh nikmat sekali apalagi jari jari tangannya ikutan mengocok memekku, maka lengkaplah sudah kenikmatan oral yang kurasakan.

Tanpa berusaha pindah ke ranjang, Bobi mulai menyapukan kontolnya ke bibir memek, kubiarkan kontol tanpa kondom itu mulai menyusuri liang kenikmatanku. Desah dan jerit meledak tak kala kontol yang besar itu mulai keluar masuk mengocok, semakin lama semakin cepat dan keras, berulang kali kepalaku terbentur pintu saat dia menyentakku keras namun tak kami perdulikan.

Celotehan dan komentar dari JJ tak kami hiraukan, justru membuat permainan kami semakin memanas, remasan remasan pada buah dada dan sesekali kurasakan tamparan pada pantat mengiringi kocokannya. Kurengkuh kenikmatan demi kenikmatan hingga meledaklah jeritan orgasme dariku.

“Bobii” teriakku saat otot otot memekku berdenyut hebat diiringi tubuh mengejang, namun dia tak peduli justru semakin mempercepat kocokannya dan meremas buah dadaku makin kencang.

Lutut serasa melemas tak mampu berdiri, tubuhku merosot turun hingga posisi dogie. Sungguh gila dia mengocokku lebih dari 10 menit di depan pintu tanpa memperdulikan adanya orang lewat depan kamar, pasti bisa mendengar desah dan jeritan kenikmatanku.

Ternyata dengan posisi ini dia bisa lebih bebas mengaduk aduk memekku tanpa ampun. Kalau saja kubiarkan, dia sudah melesakkan kontolnya ke lubang dubur, tentu saja aku menolak meski dia telah berhasil mempesonaku. Tiga kali usahanya memasukkan kontolnya ke dubur kutolak dia tak mencoba lagi, namun seakan melampiaskan ke memek.

Aku benar benar terhanyut dalam permainannya, kubiarkan saat tubuhku dibalik telentang, masih juga di depan pintu, tak kuhiraukan karpet kamar yang agak bau dan berdebu. Bobi menindih tubuhku bersamaan dengan melesaknya kembali kontol ke memek, untuk kesekian kalinya jeritan lepas tanpa kontrol mengalun keras di kamar ini, sungguh permainannya semakin liar.

Tak ada niatan untuk pindah ke ranjang, bahkan saat aku berada di atas, kami masih melakukannya di tempat yang sama, di depan pintu. Dengan posisi di atas, aku bisa memandang wajah dan postur tubuhnya lebih jelas, begitu juga sebaliknya. Remasan dan kuluman pada putingku mengiringi gerakan di atas Bobi dan,

“Bobii, yess” desahku beberapa menit kemudian saat kugapai orgasme yang kedua darinya, dan disusulnya tak lama kemudian dengan pelukan kuat tubuhku.

Aku langsung terkulai lemas dalam pelukan Bobi, napas kami menyatu dalam irama tak karuan, berulang kali kuciumi wajah dan bibirnya yang tampak semakin menggemaskan, begitu juga dia lakukan padaku. Kutinggalkan Bobi yang masih telentang di atas karpet lantai, aku mandi membersihkan diri dari keringat beberapa orang yang bercampur aduk menempel tubuhku.

Ketika aku kembali ke kamar dengan tubuh berbalut handuk, sebenarnya nggak perlu karena toh mereka berdua telah tahu dan telah menikmati apa yang ada dibalik handuk yang kukenakan, kulitah Bobi telentang di atas ranjang masih telanjang, ngobrol dengan JJ dengan santainya.

Kuambil tempat kosong disebelah JJ, dia mengangsurkan rokok yang baru saja dinyalakan.

“Bob, percaya nggak kalau kamu adalah orang kedelapan yang main sama dia” kata JJ. “Ha?? Sudah orang kedelapan? Mainnya masih liar gitu, gimana yang pertama dan kedua?” tanyanya heran, aku hanya tersenyum saja sambil menghembuskan asap rokok kuat kuat.

Tak lebih 15 menit kami beristirahat, Bobi sudah membawaku kembali mengayuh biduk birahi, ranjang itu serasa terlalu sempit untuk kami berdua, berbagai gaya dan posisi kami lewati dalam mengarungi lautan birahi. Bahkan kamipun berpindah medan, di sofa tanpa memperdulikan JJ yang makin asyik menikmati permainan kami berdua.

Kali ini lebih lama dari sebelumnya, entah sudah berapa kali kugapai orgasme hingga kamipun terkapar dalam indahnya kenikmatan birahi. Hampir satu jam kami lewati dan aku benar benar tiada daya lagi, bahkan untuk ke kamar mandipun kakiku serasa berat melangkah.

Pukul 2 dini hari, Bobi meninggalkan kami, kulepas kepergiannya dengan berat hati, sebenarnya aku ingin dia tinggal hingga besok tapi dia harus pulang, maklum masih ikut orang tua. Setelah mengantar Bobi hingga pintu, tanpa mandi, kubersihkan memekku dari spermanya.

Kamar itu serasa hampa tanpa keberadaannya, apalagi hanya si jelek JJ dengan senyum seringai bak srigala buas yang siap menerkam. Hanya 10 menit semenjak kepergian Bobi, JJ sudah mulai merajuk, tangannya menjamah sekujur tubuhku yang masih berkeringat, dia tak peduli dengan bekas keringat Bobi yang masih menempel di tubuhku dan belum aku bersihkan.

“Aku udah capek Om, besok pagi aja ya” tolakku halus tapi dia tak peduli. “Nggak, justru aku ingin lihat kamu sampai batas terakhir, bila perlu sampai pingsan juga nggak apa apa, seperti apa sih daya tahan kamu yang hebat itu?” desaknya mulai mengulum putingku seiring permainan jari jari pada memek.

Sungguh beda rasanya cumbuan JJ dan Bobi, meski dia lebih pintar tapi aku lebih menyukai cumbuan Bobi. Kupejamkan mataku rapat rapat membayangkan Bobi masih ada dan sedang mencumbuku, bahkan saat kurasakan sentuhan di bibirku, akupun membalas lumatan itu seakan sedang berciuman dengannya.Cerita Dewasa Terbaru Kenangan Sex Singkat Di Lift

Sisa malam aku habiskan dengan melayani nafsu birahi JJ, dan sepanjang itu pula bayangan Bobi selalu melayang layang dalam angan. Aku merasakan kuluman Bobi saat JJ mencumbuku, bahkan kocokannya serasa Bobi yang melakukan, entahlah mungkin juga JJ yang sudah banyak pengalaman bisa membedakan khayalanku tapi mungkin juga dia menikmatinya karena permainan jadi bertambah panas.

Terlupakan sudah kelelahan dan keletihan yang kualami, tak terhitung berapa kali lagi aku mendapatkan orgasme tambahan dari JJ, sepertinya aku benar benar dipacu hingga batas terakhir birahiku.

Terlupakan sudah bahwa JJ tua yang bertubuh gendut dengan mata agak juling sedang memacu birahinya diatas tubuhku, yang ada hanyalah seraut wajah dan bayangan si Bobi yang macho.

Hingga semburat sinar matahari yang mulai menampakkan dirinya diufuk sana, kami baru bisa memejamkan mata dengan keletihan yang teramat sangat, sepertinya aku tak mampu lagi melalui hari esok. – Koleksi cerita sex, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita horny, cerita hot 2016

Cerita Sex 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *