Cerita Dewasa IGO Tante Warung Pemuas Seksku

Posted on
Obat Perangsang Wanita

Cerita Dewasa IGO Tante Warung Pemuas Seksku Bacaan Sex sebelumnya ialah Cerita Dewasa IGO Korban Seks Pengobatan Spiritual Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Semi, Cerita Panas, Cerita Horny Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Semi, Cerita Panas, Cerita Horny Sebelum memulai cerita, saya akan memperkenalkan diri saya dulu, sebut saja nama saya David, saya adalah staff disalah satu perusahaan swasta di kota A, kota dimana saya bekerja itu berhawa sejuk dan nyaman. Kebetuklan kos saya berdekatan dengan tempat kerja saya. Saya sangat betah sekali bekerja di perushaan ini karena didaerah tempat kerja saya wanTanti-wanTantinya cantik-cantik sekali. Umumnya para lelaki untuk melepas penat karena sudah seharian kerja, saya dan teman-teman kost setiap pulang kerja mempunnyai kebiasaan menggoda cewek-cewek disekitar tempat kosku itu.

Cerita Dewasa IGO Tante Warung Pemuas Seksku
Cerita, Dewasa, IGO, Tante, Warung, Pemuas, Seksku, cerita seks, cerita mesum, cerita dewasa, cerita panas, cerita ngentot, cerita semi, cerita ngewe


Bercerita Sex Untuk memenuhi kebutuhan belanja sehari-hariku, di samping kostku ada sebuah warung kelontong kecil namun lumayan lengkap. Warung itu sudah menjadi langganan saya. Kadang kalau sedang tidak membawa uang atau saat belanja uangnya kurang saya sudah tidak sungkan-sungkan untuk kasbon. Pemilik warung itu adalah Ibu Tanti namun karena kami sudah akrab, saya memanggilnya dengan panggilan Tante Tanti , kebetulan dia seorang janda beranak satu. Warung Tante Tanti buka pagi-pagi sekitar jam 5.30 – 21.00.

Seperti biasa, sepulang kantor setelah sampai kosan saya mandi, dan setelah mandi pakai sarung sembari stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama teman-teman kost. Saya bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng, namun rasanya ada yang kurang, apa ya..?, Oh ya rokok, namun setelah saya lihat jam waktu sudah menunjukkan jam 20.58 menit , saya jadi ragu, apa warung Tante Tanti Masih buka ya..?, Ah, saya coba saja kali-kali saja Masih buka. Oh, ternyata warung Tante Tanti belum tutup, namun kok sepi, “Mana yang jualan”, ucap dalam hatiku.

“Tante, Tante, Dik Izal, Dik Izal”, teriakku,

Kok sepi ya, warung ditinggal sepi seperti ini, kali aja tante Tanti lupa menutup warungnya. Coba panggil sekali lagi,

“Permisi, Tante Tanti?” panggilku lagi,

“Oh ya, tunggu”, sautnya tante tanti,

Ternyata setelah saya panggil lagi ada suara menyaut dari dalam. Keluarlah Tante Tanti, pada saat itu Tante Tanti hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada, dengan jalannya yang tergesa-gesa ke warung sambil mengusap-usap rambutnya yang kelihatannya baru selesai mandi .

“Oh, maaf Tante, Saya mau mengganggu nich, Saya mo beli rokok nih tante, lho Dik Izal mana?

“O, Izal sedang dibawa ama kakeknya, katanya kangen ama cucu, maaf ya Dik David Tante pake’ pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich”,

“ Nggak apa-apa kok Tante “ , ucap saya,

Secara otomastis mata saya pun melihat badan yang lain yang tidak terbungkus handuk, putih mulus, seperti Masih gadis-gadis, baru kali ini saya lihat sebagian besar tubuh Tante Tanti, soalnya biasanya Tante Tanti selalu pakai baju kebaya. Dan lagi saya baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Tanti tidak memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

“ Malam gini kok belum tutup Tante..? “

“Iya Dik David, ini juga Tante mau tutup, namun mau pakai pakaian dulu?

“Oh biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, ucap saya. Masuklah saya ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.

“Wah ngerepoti Dik David kata Tante Tanti, sini biar Tante ikut bantu juga”, Warung sudah tertutup, kini saya pulang lewat belakang saja.

“Trimakasih lho Dik David..?”,

“Sama-sama..” kata saya.

“Tante saya lewat belakang saja”,

Saat saya dan Tante Tanti berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk tante, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di dadanya terlepas, dan Tante Tanti terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Tanti menjerit sambil secara reflek memelukku.

“Dik David, tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante”, kata tante dengan muka merah padam,

Saya jongkok mengambil handuk tante yang jatuh, saat tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada pemandangan yang sangat indah, celana dalam merah muda, dengan background hTantim rambut-rambut halus di sekitar memeknya yang tercium harum. Kemudian saya cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Namun ketika saya mau melilitkan handuk tanpa kusadari peniskuyang sudah bangun sejak tadi menyentuh tante.

“Dik David, burungnya bangun ya..?”,

“Iya Tante, ah jadi malu Saya, habis Saya lihat Tante seperti ini mana harum lagi, jadi nafsu Saya Tante..”,

“Ah tidak apa-apa kok Dik David itu wajar..”,

“Eh ngomong-ngomong Dik David kapan mo nikah..?”,

“Ah belum terpikir Tante..”,

“Yah, kalau mau nikah harus siap lahir batin lho, jangan kayak mantan suami Tante, tidak bertanggung jawab kepada keluarga, nah akibatnya sekarang Tante harus bersetatus janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu, namun ada yang lebih menyiksa Dik David.. kebutuhan batin..”, ucapnya,

“Oh ya Tante, terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu..”, tanysaya usil.

“Yah, Tante tahan-tahan saja..”,

Kasihan, batinku, andaikan, andaikan, saya diijinkan biar memenuhi kebutuhan batin Tante Tanti, ough, pikiranku tambah usil.

Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan.

“Dik David burungnya Masih bangun ya..?”,

Saya cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Tanti meraba burungku.

“Wow besar juga burungmu, Dik David, burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom..?”,

“Belum..!!”, jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, saya mulai merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak pernah kurasakan.

“Dik, boleh dong Tante ngeliatin burungmu bentarr saja..?”, belum sempat saya menjawab, Tante Tanti sudah menarik sarungku, praktis tinggal celana dalamku yang tertinggal plus kaos oblong.

“Oh, sampe’ keluar gini Dik..?”,

“Iya emang kalau peniskulagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, Saya sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku..?”, kata saya sambil terus menikmati kocokan tangan Tante Tanti.

“Wah, Tante yakin, yang nanti jadi istri Dik David pasti bakal seneng dapet suami kaya Dik David..”, kata tante sambil terus mengocok burungku,

Sungguh nikmat sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Saya tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa saya tahu, Tante Tanti sudah melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu saya tahu karena peniskuternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak terlalu besar itu.

“Ough, Tante, nikmat Tante, ough..”, desahku sambil bersandar memegangi dinding rak dagangan, kali ini tante meMasukkan peniskuke bibirnya yang kecil, dengan buasnya dia keluar-Masukkan penisku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot, ough, seperti terbang rasanya. Kadang-kadang juga dia sedot habis buah salak yang dua itu, ough, sesshh.

Saya kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, dia pegangi peniskusambil berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Tanti naik sambil nungging di atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku kini.

“Dik David, berbuatlah sesukamu, cepet Dik, cepet..!”,

Tanpa basa-basi lagi saya tarik celana dalamnya selutut, woow, pemandangan begini indah, memek dengan bulu halus yang tidak terlalu banyak. Saya jadi tidak percaya kalau Tante Tanti sudah punya anak, saya langsung saja mejilat memeknya, harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari memeknya. Saya lahap rsayas memek tante, saya mainkan lidahku di clitorisnya, sesekali saya Masukkan lidahku ke lubang memeknya.

“Ough Dik, ough..”, desah tante sambil memegangi payudaranya sendiri.

“Terus Dik, Maas..”, saya semakin keranjingan, terlebih lagi waktu saya Masukkan lidahku ke dalam memeknya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.

Kemudian Tante Tanti membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk ke atas.

“Ayo Dik David, Tante sudah tidak tahan, mana burungmu Dik.. burungmu sudah pengin ke sarangnya, wowww, Dik David, burung Dik David kalau bangun dongak ke atas ya..?”,

Saya hampir tidak dengar komentar Tante Tanti soal burungku, saya melihat pemandangan demikian menantang, memek dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, saya langsung tancapkan peniskudibibir memeknya.

“Aughh..”, teriak tante.

“Kenapa Tante..?”, tanysaya kaget.

“Udahlah Dik, teruskan, teruskan..”, saya Masukkan kepala peniskudi memeknya, sempit sekali.

“Tante, sempit sekali Tante.?”,

“Tidak apa-apa Dik, terus saja, soalnya sudah lama sich Tante tidak ginian, ntar juga nikmat..”,

Yah, saya paksakan sedikit demi sedikit, baru setengah dari peniskuamblas, Tante Tanti sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.

“Augh, Dik, ouh, Dik, nikmat Dik, terus Dik, oughh..”,

Begitu juga saya, walaupun penisku Masuk ke memeknya cuma setengah, namun sedotannya oughh luar biasa, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Kali ini peniskusudah amblas dimakan memek Tante Tanti. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Tanti. Tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku, mencakarku.

“Oughh Dik, ough, luar biasa, oughh, Dik David..”, katanya sambil merem-melek.

“Kayaknya ini yang namanya klimaks, ough..”, peniskutetap di memek Tante Tanti.

“Dik David sudah mau keluar ya..?”, Saya menggeleng,

Kemudian Tante Tanti telentang kembali, saya seperti kesetanan menggerakkan badan saya maju mundur, saya melirik payudaranya yang bergelantungan karena gerakanku, saya menunduk dan kucium pentilnya yang coklat kemerahan. Tante Tanti semakin mendesah, “Ough, Dik..”, tiba-tiba Tante Tanti memelukku sedikit agak mencakar punggungku.

“Oughh Dik, saya keluar lagi..”, kemudian dari kewanTantiannya saya rasakan semakin licin dan semakin besar, namun denyutannya semakin terasa, saya dibuat terbang rasanya. Ach rasanya saya sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Tanti.

“Tante, Saya keluarin dimana Tante..?, di dalam boleh nggak..?”,

“Terrsseerraah..”, desah Tante Tanti,

Kemudian saya percepat gerakanku, penisku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya air mani saya saya muntahkan dalam memek Tante Tanti, Masih saya gerakkan badanku rupanya kali ini Tante Tanti klimaks kembali, dia gigit dada saya.

“Dik David, Dik David, hebat Kamu Dik”, Cerita Seks Dewasa Aku di Gangbang Oleh 3 Guruku

Saya kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Tanti Masih tetap telanjang telentang di atas meja.

“Dik David, kalau mau beli rokok lagi yah, jam-jam begini saja ya, nah kalau sudah tutup digedor saja, tidak apa-apa, malah kalau tidak diketuk Tante jadi marah..”, kata tante menggoda saya sambil memainkan pentil dan clitorisnya yang Masih nampak bengkak.

“Tante ingin Dik David sering bantuin Tante tutup warung”, kata tante sambil tersenyum genit,

Lalu saya pulang, baru terasa leDik sakali badanku, namun itu tidak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya ketika saya hendak berangkat ke kantor, saat di depan warung Tante Tanti, saya di panggil tante.

“Rokoknya sudah habis ya, ntar malem beli lagi ya..?”, katanya penuh pengharapan,

padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, namun mereka tidak tahu apa maksud perkataan Tante Tanti tadi, saya pun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam yang sangat menggairahkan dan membuat saya ketagihan. – Koleksi cerita sex, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita horny, cerita hot 2016