Cerita Dewasa IGO Disetubuhi Oleh 3 Pembantuku

Posted on
Obat Perangsang Wanita
Cerita Dewasa IGO Disetubuhi Oleh 3 Pembantuku Bacaan Sex sebelumnya ialah Cerita Seks Dewasa Mertua Abangku Ngajak Aku Ngentot Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Semi, Cerita Panas, Cerita Horny Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Semi, Cerita Panas, Cerita Horny Pagi itu aku yang sedang tertidur nyenyak tiba-tiba terasa tidak nyaman karena karena nafasku tiba-tiba terasa sesak sekali, begitu pula tubuhku seperti terhimpit sesuatu. Dengan masih belum tersadar aku menggira aku terserang penyakit asma, tetp rasanya aku tidak mengidap penyakit asma. Disusulah kemudian rasa nikmat di area keHeritaanku, terasa seperti ada Kont*l yang menusuk Mem3kku. Belum lagi rasanya Gunung kembarku terasa ada yang meremas lembut, hal lalu membuatku perlahan tersadar dari tidurku, ternyata aku mendapati pembantuku yang bernama Heri sedang menyetubuhiku. Waktu itu aku yang masih setengah sadar, aka terkejut melihatnya ada di kamarku, ditambah lagi dia sedang menyetubuhiku, hal itu membuatku shokk dan secara refleks kemudian aku mendorongnya. Tp itu percuma saja, karena Heri terlalu berat untuk kudorong bagi Herita mungil seperti aku.

Cerita Dewasa IGO Disetubuhi Oleh 3 Pembantuku
Cerita, Dewasa, IGO, Disetubuhi, Oleh, 3, Pembantuku, cerita seks, cerita mesum, cerita dewasa, cerita panas, cerita ngentot, cerita semi, cerita ngewe


Bercerita Sex “ Kog Non kelihatan kaget gitu sih, Non Revana kemarinkan bilang sama saya, kalau mulai sekarang saya boleh menikmati tubuh Non? ” tanya Heri memprotesku,

Mulai tersadarlah aku karena teringat ucapanku kepada Heri kemarin,

“ Tp nggak gini caranya Her! Masak iya aku lagi tidur enak-enak kamu main tusuk gitu aja, Nggak sopan tahu !!! akukan jadi kaget, bangun-bangun ada orang di kamarku, aku mengira aku sedang diperkosa rampok tauk ! ”, ucapku,

Akupun sedikit jual mahal kepada Heri agar tidak sebrono lagi lain kali. Mendengar tegurankuku, Heri pun terdiam. Walaupun setelah Heri kutegur terdiam, tp Kont*lnya yang menusuk di Mem3kku ku tidaklah mengendur sedikitpun. Aku menghela nafas panjang, lalu berkata,

“ Yaudah, lanjutkan aja deh permainan kamu, Mana kamu ini lama lagi kalau main.eeeh tunggu sebentar Her…!! ”,

Kemudian aku teringat dan menurunkan nada bicaraku, dan berkata,

“ Gila kamu ya Her, Kan masih ada kakakku ? ”, tanyaku,

“ Udah non tenang aja, lihat ini jam berapa? Kakak non sudah pergi 1/2 jam yang lalu kok. Dan saya sudah tidak tahan untuk bermain lagi dengan non nih ”.

Akupun sudah sedikit lega karena waktu sudah menunjukan pukul 08:30 pagi.

“ Ahhh… Ssss… La… lalu, sejak jam berapa kamu nggghh… ”

Belum selesai aku bertanya, Heri sudah mulai menggenjotku dengan liarnya, hingga aku melenguh dan merasa nikmat,

“ Oh..Her… kamu… ”, desahku nikmat.

Heri tersenyum penuh kemenangan, membuatku sedikit jengkel juga, tp hanya sebentar, karena rasa nikmat langsung melandaku ketika Heri mengulangi gayanya kemarin,Dia memeluk pinggangku, dan menarikku berdiri. Kont*l yang amat kokoh itu langsung terbenam begitu dalam, membuatku melenguh lenguh. Bukan hanya karena takut, tp juga tak ingin Kont*l itu lepas dari Mem3kku, membuatku tanpa sadar kembali melingkarkan kakiku ke pinggangnya. Rasanya tusukan Kont*l itu semakin dalam, dan aku yang sudah melingkarkan tanganku ke lehernya supaya tubuhku tidak terjatuh ke belakang, memagut bibirnya penuh nafsu tak perduli dengan wajahnya yang amburadul.

Terakhir aku minum obat anti hamil adalah ketika aku digangbang di ruang UKS 2 hari yang lalu, tp aku tak kuatir hamil, sebab kini aku sedang bukan dalam masa subur. Aku sudah tak lagi punya niat untuk jual mahal, karena rasa nikmat yang sudah menjalar ke seluruh tubuhku benar benar menghancurkan akal sehatku. Heri terus memompa Mem3kku ku sambil berjalan, rasanya nikmat sekali. Aku heran dan menduga duga ke manaDia mau membawaku, sambil mulai memperhatikan keadaanku. Bajuku masih melekat, walaupun tanpa bra. Aku memang tak pernah tidur dengan memakai bra.

Tetapi celana panjangku dan celana dalamku tidak ada, dan sempat aku melihat dari pintu kamarku ketika Heri membawa tubuhku keluar, kutemukan kedua benda itu tergeletak di lantai kamarku. Kini Heri menuruni tangga, rupanya hendak mengajak rekannya kemarin untuk bersama sama menikmati tubuhku. Gawat juga nih. Kalau tiap pagi sarapan sex seperti ini, bagaimana aku konsentrasi di sekolah? Tp aku tak kuasa menolak kenikmatan ini, dan pasrah saja mengikuti kemauan Heri.

Setiap langkahnya di tangga membuat Kont*lnya memompa Mem3kku ku, dan aku orgasme ringan hingga cairan cintaku mengalir semakin banyak, seharusnya membasahi paha Heri, yang terlihat senang senang saja. Akhirnya Dia membawaku ke kamar tidur pembantu laki laki di rumahku, dimana pak Wiknyo dan Anto sudah menunggu. Dengan nafas tersengal sengal karena sodokan Heri yang semakin gencar, aku yang menyadari akan segera digangbang lagi, mencoba mengingatkan mereka dengan terputus putus bercampur desahan dan lenguhan,

“ Kalian… harus inghh… ingat… yaaah…. ngggh…. aku nantiiii…. harus… sekolah…. ”.

Mereka tertawa, dan Anto berkata,

“ Tenang non Revana, cuma satu ronde kok. Kami kan juga harus kerja membersihkan bagian luar rumah Non… ”.

Anto membelai pantatku dan melanjutkan

“ aduh non, kalau begini non cantik banget lho non, mana ada bintang film porno yang secantik nona kita ini ya?,

Pak Wiknyo menyibakkan rambutku yang terurai ke belakang telingaku dan menimpali,

“ Kita ini benar benar beruntung bisa kerja di sini. Di mana lagi kita dapat menikmati nona amoy secantik non Revana ini.. seterusnya lagi. Non Revana sendiri kan yang minta? Kalau begini mah, bayaran gak naik juga kita betah lho Non kerja sampai tua di sini ”.

Mereka tertawa senang sementara aku yang antara malu bercampur terangsang, tak bisa menanggapi gurauan mereka, karena Heri sudah melanjutkan pompaan Kont*lnya yang sekeras batangan besi itu, membuatku menggelihat dan melenguh dalam pelukannya.

“ Nggggh.. Waaan….aduuuh….emmpph ”, Heri memagutku dengan buas, hingga aku tak bisa lagi bebas melenguh.

Yang lain sabar menanti gilirannya dengan caranya masing masing, Anto membelai dan meremas pantat dan Gunung kembarku, sementara pak Wiknyo membelai belai rambutku yang panjang sampai sepunggung ini, sambil menghirup bau harum rambutku. Dengan tubuh yang dirangsang 3 orang sekaligus seperti ini, membuat orgasme demi orgasme meluluh lantakkan tubuhku, sampai akhirnya datanglah saat saat yang paling nikmat itu, aku kembali mendapatkan multi orgasme.

“ Mmmmmph… hnngggh.. oooohhhh… aaa….duuuuuh…. ” erangku saat tubuhku terlonjak lonjak tak karuan, cairan cintaku membanjir dan membanjir.

Betisku melejang lejang, pinggangku tertekuk ke belakang ketika aku menikmati orgasmeku dengan total. Tubuhku pasti sudah jatuh kalau tak ditahan Anto dan pak Wiknyo, yang memanfaatkan kesempatan itu untuk menyusu pada Gunung kembarku sambil meremas remas dengan gemas, membuat orgasmeku yang susul menyusul ini makin terasa nikmat. Dentang grandfather clock dari dalam ruang tamu di rumahku menunjukkan sekarang ini adalah jam 09:00! Oh… entahlah, mungkin sudah sejam kali aku digenjot Heri, kalau ditambah dengan waktu aku masih tertidur.Dia memang perkasa untuk urusan sex, membuatku semakin kagum padanya. Beberapa menit setelah aku orgasme, Heri tak tahan lagi,

“ Oooh… mem*knya non Revana ini…. rasanya kont*lku kayak diurut urut… sudah 3 menit… aaah… “ , erangnya sambil menembakkan pejuhnya di dalam liang Mem3kku ku.

Aku memejamkan mata ingin menikmati sepuas puasnya rasa hangat yang memenuhi relung-relung Mem3kku ku. Kurasakan tubuhku dibaringkan di salah satu ranjang mereka, dan Kont*l Heri sudah terlepas dari Mem3kku ku. Aku membuka mataku, untuk melihat giliran siapa berikutnya. Sedikit beda dari kemarin, sekarang gilirannya Anto, yang sudah mengambil posisi di selangkanganku, dan segera membenamkan Kont*lnya ke dalam Mem3kku ku yang masih sangat basah oleh cairan cintaku dan pejuh Heri.

Aku hanya bisa menggelihat pasrah dibawah tindihan Anto, yang dengan penuh semangat menggenjotku sepuas puasnya. Pak Wiknyo masih memainkan rambutku, yang menurutnya sangat indah. Tiba-tiba aku teringat Kont*l Heri yang pasti masih belepotan pejuh yang bercampur cairan cintaku. Entah apa yang mendorongku, tp aku hampir tak bisa mempercayai bahwa itu adalah suaraku sendiri ketika aku memanggil Heri,

“ Her, sini aku oralin bentar ”.

Heri yang sedang duduk di lantai beristirahat, tentu saja tak perlu kuminta dua kali,Dia segera bangkit mendekatiku dan menyodorkan Kont*lnya untuk kuoral, dan tanpa malu malu aku memegang Kont*l yang sudah mengendur itu, kukulum dan kusedot hingga pipiku terlihat kempot, sampai tak ada pejuh yang tersisa, sementara Heri melenguh Nikmat. Benar benar edan! Bagaimana mungkin aku bisa seliar ini? Bahkan aku merasa pejuh itu begitu enak dan gurih, apakah ini karena aku mulai ketagihan minum pejuh?.

Mungkin saja, karena kini aku sudah tak sabar lagi menunggu Anto orgasme, karena aku ingin segera menjilati dan menyedot pejuh lagi. Maka setelah Kont*l Heri selesai kuoral sampai bersih, aku segera menggerakkan pinggulku menyambut tusukan demi tusukan Anto, dan benar saja, tak sampai 10 menit Anto sudah menggeram. Ingin aku memintanya keluar di mulutku, namun aku takut Dia nggap tidak adil karena tadi Heri sudah keluar di dalam. Maka aku Dia m saja, membiarkan Anto memuaskan hasratnya untuk menyemprotkan pejuhnya dalam liang Mem3kku ku. Setelah kurasakan tak ada semprotan lagi, aku segera mendorong tubuhnya sampai Kont*lnya terlepas dari jepitan liang Mem3kku ku, dan buru buru aku berkata,

” To, cpt sini… ”,

Anto pun segera menghampiriku, membenamkan Kont*lnya ke mulutku, dan aku segera menyedot nyedot dengan memejamkan mataku, merasakan tetes demi tetes pejuh yang teroleskan di lidahku. Rasanya nikmat sekali, asin dan begitu gurih. Pak Wiknyo yang sempat tak kulihat batang hidungnya, kulihat kembali, sambil membawa sebuah sendok teh dan piring kecil. Aku tak terlalu memperdulikan hal itu, dan terus mengulum Kont*l Anto. Tiba-tiba, aku melepaskan kulumanku, sambil melenguh pelan karena merasakan nikmat pada selangkanganku.

Tak apa apa, toh Kont*l Anto sudah bersih. Tp bukan itu yang harus kupikirkan, maka aku melihat ada apa dengan selangkanganku. Ternyata pak Wiknyo sedang menyendoki lelehan pejuh yang bercampur cairan cinta yang mengalir keluar dari Mem3kku ku, dan ditadahi dengan piring kecil tadi. Aku hanya Dia m menahan nikmat, ketika sendok kecil itu mengorek ngorek Mem3kku ku dengan lembut, seolah menyendoki cairan cintaku dan pejuh pejuh dari Heri dan Anto. Setelah cukup lama, mungkin setelah Mem3kku ku sudah tak terlalu becek lagi, pak Wiknyo berkata,

“ Non Revana, non suka peju ya? Saya suapin peju mau ya? ”.

Aku dengan sedikit malu, mengangguk pelan, dan pak Wiknyo mulai menyuapiku dengan lembut seperti menyuapi anaknya yang sedang sakit. Kembali aku merasakan pejuh yang bercampur cairan cinta. Suapan demi suapan cairan yang gurih dan nikmat ini membuat aku tak begitu lapar lagi meskipun aku ingat aku belum makan pagi. Setelah jatahku habis, pak Wiknyo mulai bersiap menggenjotku, sambil bertanya,

“ Non Revana, non mau nggak kalau nanti saya mengeluarkan peju dalam mulut non? ”,

Aku mengangguk senang, kemudian melebarkan selangkanganku selebar lebarnya, karena aku ingat Kont*l pak Wiknyo ini berukuran raksasa. Kurasakan Kont*l itu sudah mulai melesak sedikit, dan gairahku langsung naik cpt. Apalagi Heri dan Anto ikut menyusu pada Gunung kembarku dengan remasan remasan kecil.

“ Aduh… oooh… ”,

Erangku antara sakit dan nikmat. Tetap saja ada rasa sakit yang melanda Mem3kku ku, karena ukuran Kont*l pak Wiknyo sangat besar. Tp kini aku bisa lebih cpt beradaptasi, dan mulai mengimbangi genjotan sopirku ini. setelah rasa sakit itu lenyap, aku mulai mendesah dan melenguh Nikmat. Kont*l itu seolah menancap begitu erat, sehingga ketika pak Wiknyo menarik Kont*lnya, seolah Mem3kku ku yang menjepit Kont*lnya ikut tertarik, dan tubuhku terangkat sedikit. Namun ketika Kont*l itu menghunjam, rasanya Mem3kku ku serasa sedang dimasuki daging keras yang besar hingga sesak sekali.

Tak sekeras punya Heri memang, tp masih keras untuk ukuran orang seumur pak Wiknyo. Dan cukup keras untuk membuat aku serasa melayang ke aHerg awing. Rasa nikmat ini akhirnya membuat aku orgasme, kembali kakiku melejang lejang membuat jepitan Mem3kku ku pada Kont*l pak Wiknyo makin erat, dan ini membuat pak Wiknyo kelabakan, Kont*lnya berkedut kedut.Dia segera menarik Kont*lnya lepas dari Mem3kku ku dengan tergesa gesa, dan segera membenamkan Kont*lnya dalam mulutku.

Segera semprotan pejuhnya yang juga terasa asin dan gurih, membasahi kerongkonganku. Aku terus melahap pejuh itu, menjilati dan mengulum Kont*l itu hingga bersih. Aku sudah tak merasa lapar lagi setelah sarapan pejuh dan cairan cintaku sendiri. Mereka bertiga akhirnya duduk mengatur nafas mereka yang masih memburu. Heri yang paling duluan pulih, namun sesuai janji mereka, ini hanya satu ronde. Tiba-tiba Zaenab ( Pembantu ku juga )datang terburu buru sambil membawa celana dalam dan celana panjang satin pasangan baju tidurku.

“ Non, kakaknya non sudah pulang. Cepetan non, pakai ini dan kembali ke kamar non ”, seru Zaenab agak panik.

Aku juga ikut panik, segera memakai celana dalam dan celana panjang ini, kemudian berlari kembali ke kamarku. Yang lain juga segera memakai bajunya masing masing, kemudian segera keluar dari kamar tempat kami pesta sex barusan, seolah olah sedang bekerja seperti biasa. Untung Zaenab memberitahu tepat pada waktunya, aku sudah di dalam ruang makan ketika kudengar deru mesin mobil kokokku di garasi. Rupanya dosen yang mengajar mata kuliahnya pagi ini tidak datang. Aku naik tangga dengan jantung berdegup kencang, akhirnya sampai juga aku ke dalam kamarku yang kulihat sudah rapi, pasti Zaenab yang merapikan.

Sempat kulihat jam, ternyata sudah jam 09:30. Dan aku segera masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhku dari keringatku dan keringat tiga orang tadi, juga Mem3kku ku kucuci bersih, hingga terasa kesat. Mungkin karena cuma 1 ronde, tubuhku tak terlalu lelah. Selesai mandi, aku mengeringkan tubuhku sambil memastikan tak ada tanda tanda aku baru saja bermain sex dengan mereka. Lalu aku memakai baju santai, dan turun ke ruang makan. Di sana sudah menunggu kakakku, yang membawakan aku nasi campur di dekat sekolahnya, kesukaanku. Yah, kebetulan deh. Aku kan belum makan pagi, cuma sarapan pejuh dari mereka bertiga tadi. Aku memeluk kakakku senang, dan berkata, Cerita Dewasa Terhot Pesona Tini Sang Pembantu

“ Makasih ya kakakku yang baik ”. Kakakku tertawa dan menggodaku,

” Iya adeku tersayang, Tp baik kalau bawain makanan aja ya ? Kalau nggak jadi nggak baik? ”.

Aku memukul lengannya manja, lalu kami makan bersama. Kami ngobrol kesana kemari, dan tak terasa akhirnya selesai juga kami makan. Kakakku kembali ke kamarnya, mungkin main komputer. Aku juga kembali ke kamarku, mempersiapkan diri ke sekolah. Sekarang sudah jam 10, aku biasanya berangkat jam 11:30. masih ada satu setengah jam lagi, aku menyiapkan seragamku, putih abu abu. Juga tas sekolahku, yang membuatku teringat tentang obat perangsang itu. Lalu aku menyisir rambutku rapi, dan duduk manis di ranjangku. Sambil menunggu, aku menelepon temanku, dan kami ngobrol sampai tak terasa sudah waktunya aku harus berangkat.

Setelah berpamitan, aku mengenakan seragam sekolahku, lalu berpamitan pada kakakku, dan turun ke garasi. Seperti biasanya, pak Wiknyo menawarkan diri untuk mengantarku, tp kutolak halus karena aku ingin menyetir mobil sendiri. Dalam perjalanan, aku mengingat ingat kejadian pagi ini, dan membayangkan besok aku harus melayani mereka bertiga lagi karena kakakku kuliah pagi sampai siang. Hmm, sarapan sex tiap pagi sebelum ke sekolah? aku menggelengkan kepala tak habis pikir, bisa bisanya ada pembantu plus sopir yang menyetubuhi tubuh anak majikannya. Entahlah, yang gila aku atau mereka yang gila. Sudahlah ikutin arus saja layaknya air yang mengalir disungai. – Koleksi cerita sex, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot, cerita mesum, cerita panas, cerita horny, cerita hot 2016